Hidayatullah.com– Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama (Kemenag) RI, Prof Dr Arskal Salim GP menegaskan peranan dan posisi Islam dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu disampaikan dalam Kuliah Umum bersama sivitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, belum lama ini.
Bertempat di Aula Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Guru Besar Politik Hukum Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini memaparkan orasi ilmiah dengan tema “Peran PTKI dalam Meningkatkan Gairah Keislaman dan Wawasan Kebangsaan”, di hadapan ratusan mahasiswa dan tamu undangan.
Dalam orasinya, Prof Arskal mengawali penjelasannya tentang keistimewaan Indonesia dibanding negara lain, khususnya dalam hal kebebasan menjalankan ajaran Islam.
Baca: Seminar BEM STIT Hidayatullah Kupas Eratnya Islam dan NKRI
Di negara lain, khususnya negara sekuler, papar Prof Arskal, susah sekali untuk mendirikan masjid, menyampaikan khutbah secara terbuka, dan melaksanakan ajaran keislaman dalam ruang ruang publik.
“Tapi kita di negeri ini, sangat bebas. Apapun bisa kita lakukan untuk melaksanakan ajaran keislaman kita. Tidak ada yang larang. Coba bandingkan dengan negara-negara sekular,” tegas Prof Arskal sambil menceritakan pengalamannya belajar di sejumlah negara Eropa.
Bahkan, lanjut Prof, atas peranan dan terjalinnya ikatan Islam yang sangat kuat dengan Indonesia, bangsa ini kemudian dipuji oleh bangsa luar. Mereka respek dengan realitas ini.
“Kok bisa, punya mayoritas Muslim, hidup dalam kemajemukan suku, ditambah sistem demokrasi, bisa ketemu, bisa sejalan seiring?” ucap alumnus Pasca Doktoral Jerman ini dengan ungkapan bertanya.
Baca: Ketua MPR: Mosi Integral M Natsir Bukti Umat Islam Cinta NKRI
Ini semua karena peranan Islam di yang sudah mengakar dan menyatu dengan budaya bangsa Indonesia, lanjutnya.
“Sebab, penyebaran Islam ke Nusantara bukan dengan kekerasan, tidak dengan pedang, tapi ia dibawa para ulama, para pedagang Arab,” imbuhnya, “dengan cara yang damai.”
Sehingga, tegas alumnus Doktoral Hukum dari Australia ini, nilai-nilai kekhasan yang ada di negara ini, harus senantiasa dirawat. Jangan sampai membenturkan Islam dengan paham kebangsaan.
“Kita bagian dari Indonesia, maka kita harus jaga NKRI ini. Alangkah indahnya, Islam dan kebangsaan, dapat berjalan seiring,” pesan Guru Besar di Fakultas Syariah dan Hukum ini.
Prof Arskal juga menitipkan harapan buat Kampus Hidayatullah Batam, agar mengambil peran besar dalam mengawal Islam dan kebangsaan NKRI ini.
“Kampus Hidayatullah Batam, khususnya STIT Hidayatullah Batam harus mengambil peran ini, apalagi berada dalam kawasan yang sangat strategis, dekat Singapura dan Malaysia, serta berada dalam semenanjung Kepulauan Melayu,” pesan Arskal.
Indonesia, lanjut Arskal, akan menghadapi bonus demografi tahun 2045, 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Bagaimana menghadapi tantangan ini? Kalau tidak persiapkan dari sekarang, maka bangsa ini akan tergerus oleh zaman, tutupnya.
Kegiatan Kuliah Umum ini dihadiri oleh segenap Pembina dan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren setempat, Pengurus DPP, Ketua DP Kepulauan Riau, Para Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta di Batam, dan ratusan tamu undangan lainnya.* Kiriman Azhari
Baca: Pimpinan MPR: Dari Dulu Umat Islam Selalu Berkorban Demi Keutuhan NKRI