Hidayatullah.com—Adakah buku yang dicetak mengenai sejarah perjalanan biogarafi manusia melebihi nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam? Belum lagi soal komprehensifitas, kehebatan, kelengkapan, kejeniusan, kedewasaan dan berbagai sisi luhur yang dimiliki beliau. Bisa dipastikan, tidak ada satupun yang bisa menyamainya.
Berbagai karangan mengenai hayat beliau selalu lahir lintas generasi baik oleh pecinta maupun pembencinya. Kalau meminjam istilah Dr. Ragib As-Sirjani, sirah nabi Muhammad ini bagai sumber mata air yang tidak pernah kering isinya. Sehingga, siapapun yang mau menelaah dan mendalaminya, pasti akan menemukan banyak inspirasi.
Demikian salah satu yang diulas dalam kajian “Saturday Forum” yang digelar Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) hari Sabtu (21/07/2018) lalu, dengan mengangkat tema tentang penulisan Sirah Nabawiyah, khususnya pada masa krisis yang terjadi pada abad 5-7 di Andalusia.
Kajian yang digelar dari pukul 10.00-12.00 WIB mengangkat tajuk: “Perkembangan Literatur Sirah Nabawiyah di Masa Krisis Andalus (Abad 5-7 H)” yang ampu, Ustadz Asep Sobari Lc; seorang sejarawan muslim muda yang juga pendiri Sirah Community Idindonesia (SCI).
Pria yang berkali-kali melawat negeri-negeri bersejarah umat Islam seperti di Andalusia mengungkapkan ada banyak yang menulis buku Sirah Nabawiyah sejak zaman dulu.
Menurutnya, sirah nabi Muhammad ini memang hampir di setiap generasi tidak pernah sepi ditulis, namun apa yang terjadi di Andalusia pada masa krisis abad 5-7 patut untuk dicermati dan dikaji karena justru pada masa-masa sulit itu ada banyak lahir tulisan-tulisan sirah nabawiyah yang pengaruhnya dan pelajarannya masih terasa hingga saat ini.
Baca: Mempelajari Sirah Nabawiyah, Bukti Cinta Pada Rasulullah
Untuk menjelaskan kondisi krisis di masa itu yang mana umat Islam mengalami banyak kekalahan dari para musuh, maka ustadz alumni Universitas Madinah ini menjelaskan senandung kasidah dari Abul Baqa Ar-Rundi (7 H/13M).
Sosok yang disebut sebagai “Tatimmatul-Udabaa” (Sastrawan Kawakan Penutup) di Andalusia ini memang menyaksikan dan merasakan secara langsung krisis tersebut.
“Segala sesuatu ketika mencapai kesempurnaan berkurang, kalau sudah dipuncak orang jangan tertipu. Coba renungkan dalam peristiwa kehidupan ini selalu bergulir. Siapa yang merasa senang pada satu masa yang pendek, maka dia akan merasa menderita di masa yang panjang. Inilah salah sunah ilahi dalam kehidupan dunia tidak ada yang kekal. Nikmat sehebat apapun akan koyak oleh waktu. Ketika manusia sudah mulai melampaui batasnya, dia tidak perhatian terhadap peristiwa. Setiap kesulitan pasti ada senangnya. Tapi yang terjadi di Andalusia tidak ada yang menyenangkan. Andalus diterpa badai yg kita tak sempat berbela sungkawa. Dengan badai ini gunung sampai tercabut dari akarnya. Tanyalah pada Valencia bagaimana keadaan Mursia. Dimana Syathiba atau dimana Jayyan. Dan mana Cordova sekarang yang dulu merupakan rumah ilmu. Banyak ilmuan yang mencapai puncak keilmuannya. Dimana Hums (Sevilla) dengan taman-taman indah dan sungai yang jernih yang dapat diminum manis dan deras. Sungguh itu adalah kota besar dan pilar Andalus, tapi apa yang tersisa dari semua itu kalau sekarang sudah runtuh,” ujarnya.
Itu sekilah kasidah yang disampaikan oleh Abul Baqa mengenai krisis yang terjadi di Andalusia saat itu. Bagi yang membaca lanjutan kasidah itu, akan terasi miris dan pilu karena yang dialami umat Islam saat itu begitu tragis.
Jadi saat itu yang dialami umat Islam sangat luar biasa. Setelah dua ratus tahun –pasca kasidah Abul Baqa- Islam Andalusia benar-benar hancur atau jatuh di tangan para musuh. Meski demikian, ada sisi menarik yang perlu ditilik di masa krisis ini.
Alumni PP Modern Darussallam Gontor ini mengutip Dr. Husain Mu’nis dalam buku “Suyuukh fii al-Ashr al-Andalus” (117) yang menyebutkan bahwa pada masa ini kecendrungan menulis Sirah dan “Maghazi” (Kisah Peperangan Rasulullah) yang ditulis untuk membangun kekuatan dan ketabahan.
Dampaknya, banyak masyarakat ikut berjihad dan gugur untuk mempertahankan negara.
“Jadi, pada saat itu bukan hanya politisi dan penguasa yang membela negara. Bahkan, dalam catatan masa krisis, ada sekitar 20 ribu jiwa yang gugur yang di dalamnya terdiri dari ulama dan rakyat sipil yang mempertahankan wilayah Islam dari serangan musuh yang mana mereka termotivasi dengan buku sirah yang ditulis ulama di masa krisis ini.”
Ia menyebut beberapa contoh karya yang ditulis pada masa krisis itu: Pertama, “A’lam An-Nubuwwah” karya Abdurrahman bin Futhays (Cordoba). Kedua, “A’lam An-Nubuwwah” karya Ibnu Abdil Barr (Corcoca-Xativa). Ketiga, “Jawaami as-Sirah”” karya Ibnu Hazm (Cordoba). Keempat, “Daliil An-Nubuwah” karya Abul Abbas Ahmad bin Umar al-Udzri (Almeria). Kelima, “A’lam An-Nubuwwah” karya abu Ubaid. Masih banyak karya lain yang tak kalah penting seperti: “Asy-Syofa”, “Ar-Raudh al-Anfu”, “al-Maghazi”, “at-Tanwiir”, “al-Iktifaa” dan lain sebagainya.
Menariknya, di antara pengarang itu ada yang masih ada hubungan guru dan murid yang bukan saja sebagai penulis buku sirah, tapi juga turut andil dalam perjuangan di medan tempur sebagaimana ulama yang dikenal dengan sebutan Al-Kilaa`i pengarang buku “al-Iktifaa”. Mereka ini adalah ksatria dan pahlawan yang sangat fenomenal yg memimpin perang yg gugur diedan perang. Dan mereka terkait erat dengan perjuangan umat Islam di berbagai Medan.
Poin penting dalam penulisan buku sirah pada masa krisis ini: di tengah kondisi yg begitu bergejolak, masyarakat mengandalkan para ulama. Dan mereka (ulama) tahu suplemen untuk membangkitkan umat, yaitu: Sirah Nabawiyah. Contohnya di antara mereka menulis “Dalill An-Nubuwah”.
Tujuan penulisan sirah di masa krisis ini adalah agar umat yakin pada kerasulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mempunyai keteladanan untuk di implementasikan sehigga mampu menghadapi krisis yang dihadapi.
Tidak berlebihan jika Ibnu Hazm berkata bahwa sirah mempunyai dampak perubahan yang luar biasa sebagaimana nabi yang diutus di tengah zaman jahiliyah dengan modal terbatas tapi mencapai perubahan dan capaian yang dahsyat, tapi apa yang dicapai tidak merubah kepribadian dan kesederhanaanya. Karena itu, kata beliau, kalau tidak ada mukjizat selain sirah maka itu sudah cukup.
Kajian yang cukup hangat ini memberi pelajaran berharga pada pembaca bahwa Sirah Nabawiyah bukanlah sekadar bacaan dan hiburan, namun bisa menjadi sebagai stimulus, motivasi, penggerak bagi perubahan hingga pada ranah peradaban. Apa yang ditulis oleh ulama-ulama Andalusia mengenai Sirah Nabawiyah yang menyulut semangat heroik di kalangan umat Islam saat itu perlu dikaji lagi lebih mendalam lagi agar bacaan Sirah Nabawiyah tidak sekadar formalitas dan biasa-biasa saja.*/kiriman Mahmud BS (Jakarta)