Hidayatullah.com—Bertempat di Gedung X FIB Universitas Indonesia (UI), hari Sabtu, 21 November 2015 kemarin, pemuda ASEAN menginisiasi terbentuknya jaringan pemuda ASEAN, Asean Youth Network.
Dalam acara yang dirangkai dalam kegiatan Internasional Symposium on Humanity ini jaringan pemuda ASEAN bersepakat mengadakan edukasi terkait isu Rohingya di negara asal masing – masing, melakukan kampanye solidaritas Rohingya, mendukung dan mendorong UNHCR untuk memberikan status pengungsi Rohingya dengan segera dan mudah, dan memberikan pendidikan gratis bagi pengungsi yang berada di negara transit.
Acara yang diselenggarakan Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia atau akrab disebut Salam UI dikemas dalam acara Seminar Kemanusiaan bertema “Root and Solution in Rohingya Crisis”.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Internasional Symposium on Humanity yang bertujuan untuk menggalang kekuatan pemuda ASEAN yang perhatian terhadap isu – isu kemanusiaan khususnya di kawasan ASEAN.
Rangkaian kegiatan ini berlangsung pada tanggal 21 – 23 November 2015 yang terdiri dari seminar kemanusiaan, Focus Group Discussion (FGD), deklarasi dan kunjungan ke lembaga kemanusiaan di Jakarta.
Seminar dihadiri oleh tokoh kemanusiaan dari berbagai negara seperti Mrs. Razia Sultana (penggiat kemanusiaan dari Bangladesh dan anggota Arakan – Rohingya National Organization – ARNO), Dr.H. Sukamta (anggota Komisi I DPR RI), Adnin Armas (peneliti), Daniel Awigra (Program Manager dari HRWG/Human Right Working Group), Mohamad Ridwan Affan (Kepala Advokasi dan Resolusi Konflik Dompet Dhuafa), dan Fachrino Zulyamansyah (mahasiswa pasca sarjana Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam).
Setidaknya terdapat 7 NGO dengan 24 delegasi yang mengikuti rangkaian kegiatan ini, antara lain adalah Persatuan Patani (Thailand), PMIUM (Malaysia), Harum (Malaysia), PKPIM (Malaysia), Salam UI (Indonesia), PII (Indonesia), dan PRIMA DMI (Indonesia).
24 Delegasi tersebut mengkaji isu Rohingya dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan sidang Forum ASEAN.
FGD terdiri dari 3 bidang; sosial-budaya, ekonomi-politik, dan hukum. Bedasarkan diskusi yang dilakukan secara intens selama dua hari, disepakati sebuah deklarasi simposium internasional tentang kemanusiaan 2015. */Awwah Halim