Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Dr Henri Salahudin: Feminisme Berbahaya Bagi Ketahanan Keluarga, Tak Sesuai Agama dan Pancasila

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Oktober 2020 10:52 10:52 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Oktober 2020 10:52
Bagikan
program guru belajar berbagi
Dr Henri Salahudin, dalam kuliah pekan ke-15 Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung Angkatan VI pada Kamis (01/10/2020).
Bagikan

Hidayatullah.com– Peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Dr. Henri Salahudin, menjadi pembicara dalam kuliah pekan ke-15 Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung Angkatan VI pada Kamis (01/10/2020). Ia membawakan tema tentang konsep gender. Dalam pertemuan tersebut, Henri mewanti-wanti bahaya pandangan gender ala feminisme militan bagi ketahanan keluarga di Indonesia.

“Feminisme ini selain berbahaya bagi ketahanan keluarga, karena mempromosikan sikap kompetisi tak sehat antara perempuan dengan laki-laki sehingga rawan mereduksi konsep kerja sama dan keserasian gender yang inheren dalam ajaran Islam, juga tidak sesuai dengan ajaran dasar dari agama, ketimuran, dan falsafah Pancasila itu sendiri,” terangnya.

Henri mencontohkan perspektif sejumlah pengusung feminisme garis keras yang membahayakan nilai-nilai keharmonisan dan keberlanjutan keluarga.

“Andrea Dworkin misalnya, memandang bahwa pernikahan itu adalah suatu institusi yang dikembangkan dari suatu praktik pemerkosaan, sementara Vivian Gornick menyatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga merupakan profesi yang tak punya legitimasi,” urai penulis buku Indahnya Keserasian Gender dalam Islam itu.

“Selain itu, Linda Gordon jelas-jelas menganggap bahwa the nuclear family atau ‘keluarga inti’ mesti dihancurkan, sedangkan Ti-Grace Anderson mengatakan bahwa institusi hubungan seksual, termasuk di dalamnya keluarga yang sah dan legal antara seorang perempuan dan laik-laik, adalah sesuatu yang anti feminisme,” lanjutnya.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Menurut peneliti yang juga lulusan Pondok Pesantren at-Tanwir Talun, Sumberejo, Bojonegoro itu, Declaration of Feminism yang digerakkan oleh Nancy Lehmann dan Helen Sullinger secara terang meletakkan keluarga sebagai musuh yang harus diperangi.

“Kata mereka: ‘marriage has existed for the benefit of men; and has been a legally sanctioned method of control over women … We must work to destroy it … The end of the institution of marriage is a necessary condition for the liberation of women. Therefore it is important for us to encourage women to leave their husbands and not to live individually with men’. Ini kan jelas-jelas ingin mengacak-acak dan menghancurkan keluarga, padahal Islam sudah menawarkan suatu hubungan kolaborasi yang harmonis antara perempuan dan laki-laki dalam hubungan suami-istri,” bebernya.

Imaduddin, seorang peserta kuliah, juga mengamini hal itu. “Saya setuju ini akan sangat mengancam ketahanan keluarga, yang sebagai unit kelompok terkecil dari suatu masyarakat, turut membangun ketahanan dari suatu bangsa; seperti di negara-negara Barat dan sejumlah negara Asia seperti Jepang sekarang, salah-satunya akibat sikap yang mempertentangkan secara diametral laki-laki dengan perempuan, terjadi keengganan berkeluarga yang sudah sangat mempengaruhi jumlah sumber daya manusia yang produktif,” terang Duddin.

“Feminisme ini akan semakin memperparahnya; anak-anak yang ada kemungkinan besar akan punya masalah kepribadian,” imbuhnya.

“Karena secara sentimen tampak mengakomodasi dan menyuarakan suara perempuan, terutama terkait dengan keinginan kebebasan, apalagi dilatarbelakangi stigma bahwa dalam tatanan keluarga itu perempuanlah yang lemah dan tidak punya kuasa bahkan untuk dirinya sendiri, padahal dalam konsep keluarga sebagai suatu mistāqan ghalīẓa atau perjanjian agung dalam ajaran Islam itu, ada suatu kolaborasi yang harmonis antara istri dan suami,” tambah Elis Nuraeni, yang juga seorang peserta kuliah.*/M Miftahul Firdaus

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:feminismeHenri SalahudinINSISTSliberalismerumah tanggaSekolah Pemikiran IslamSPI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masker Wajib Dipakai di Dalam dan Luar Ruangan di Seluruh Italia
Tulisan selanjutnya Studi: 80% Pengidap Covid-19 di Inggris Tidak Menampakkan Gejala Inti Saat Dites

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?