SEMRINGAH sungguh wajah pemuda itu. Hari yang cerah di akhir Desember 2010, sang pria bernama lengkap Rusdin Mancu itu secara resmi memperistri seorang gadis bernama Firliwati Hippy. Tanpa melalui proses pacaran.
Bersama dengan 5 orang lainnya, Rusdin hari itu menjadi peserta “Pernikahan Akbar Mubarak Hidayatullah Depok” yang berlangsung di ruang utama Masjid Agung Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatulllah Kota Depok, Jawa Barat.
“Sah. Halal!”, begitu sorak hadirin saat prosesi aqad nikah.
Rusdin Mancu sendiri merupakan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHIDA) tahun tersebut. Baru lulus beberapa waktu, ia langsung ditawari menikah. Tertariklah dia. Apalagi gratis pula. Akhir Desember, acara walimatul ‘ursy itu pun dihelat.
Meski baru saling kenal. Namun, Rusdin tak bisa menjalani bulan madunya berlama-lama dengan sang istri. Sekitar lima bulan kemudian, setelah sebelumnya ia menjalanakan kepesantrenan sebagai ta’mir masjid di Hidayatullah Depok, ia lalu ditugaskan oleh PP Hidayatullah untuk terjun berdakwah di Kepulauan Halmahera.
Tepat 12 Mei 2011 Rusdin bersama sang istri pun harus tandang ke gelanggang. Dari Kota Depok menuju tempat tugas baru sebuah wilayah tak terlalu populer di Kepulauan Halmahera Timur (Haltim) bersama sang istri tercinta.
Awalnya Rusdin tak menyangka kalau penugasan ke Halmahera itu benar-benar terjadi. Ia sedih terasa saat itu karena harus berpisah dengan semua kawan-kawan seperjuangan di Depok.
“Namun begitulah waktu, tugas dakwah di medan baru seolah menjadi tempat bulan madu kami yang kedua setelah ibukota Jakarta,” katanya mengenang kepada hidayatullah.com beberapa waktu lalu.
Dengan segala ketulusan, kesabaran dan keikhlasan, SK penugasan itu terasa ringan. Ia pun tiba di Ternate tanggal 13 Mei 2011 diterima oleh PW Hidayatullah Maluku Utara. Di sana ia dan istri sempat menginap dua malam sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tugas.
Di ibukota provinsi ini Rusdin memanfaatkan waktu untuk mengenali lebih jauh kondisi geografis dan keadaan penduduk setempat. Meninggalkan markas PW di ibukota Maluku Utara, selanjutnya esoknya tanggal 15 Mei pukul 06.00 WITA, meluncurlah mereka ke tempat tugas dari pelabuhan penyeberangan Bastiong.
Memang, sebagian besar perjalanan antar pulau di daerah ini dominan harus dilalui melalui penyeberangan laut. Perjalanan yang ditempuh Rusdin dan partnernya cukup menguras waktu dan energi.
Dengan berbekal informasi dan sedikit keterangan dari beberapa orang yang ditemui mengenai rute, dengan penuh semangat Rusdin dan isteri bersama beberapa orang penumpang melaju dengan menumpangi speedboat. Di speedboat, orang yang nyalinya rendah bisa-bisa pingsan.
“Begitulah yang dialami istri saya, sempat mual-mual dan menangis dan akhirnya pingsan karena hentakkan speed-boat membelah ombak dengan gerakan seperti melompat-lompat,” kata pria kelahiran Gorontalo ini.
Perjalanan telah ditempuh selama dua jam. Kini mereka tiba di pulau Bobanigo. Rusdin harus beristirahat sekitar beberapa jam untuk menunggu istri normal kembali fisiknya. Apalagi perjalanan selanjutnya harus menggunakan ojek, sementara barang-barang yang lumayan banyak diangkut dengan truk sewa.
Selama 30 menit, tibalah mereka lagi di penyeberangan terakhir di Pulau Dodinga. Menggunakan kapal kayu, meluncur selama 5 jam. Akhirnya tiba di tempat tugas di Desa Cemara Jaya, Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.
Sesampainya di tempat tugas, Rusdin dan istri diterima oleh kepala desa dan sempat beberapa malam menginap di rumah beliau. Setelah seminggu kemudian kami silaturrahim dengan warga setempat dibantu kepala desa akhirnya ada salah seorang warga yang menawarkan rumahnya untuk ditempati.
“Benarlah janji Allah, saya bersama istri terus bermujahadah, berat rasanya semua ini kami jalani saat itu jika sedikit saja kesabaran ini hilang,” katanya.
Rusdin telah menduga sebelumnya bahwa tempat tugas dakwahnya ini sudah tersedia fasilitas. Karena dalam benaknya telah ada petugas dai Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Luqman Hakim Surabaya bernama Nurkholis yang telah lebih dulu terjun. Berarti nanti tinggal mengembangkan saja, pikirnya. Tapi ternyata diluar dugaan, semua harus dimulai dari nol karena koleganya tersebut ternyata petugas baru juga.
Alhamdulillah seiring dengan perjalanan waktu, kesulitan-kesulitan, kegelisahan yang membuncah berhasil mereka lewati dengan penuh tawakal kepada Allah. Allah itu Maha Benar dengan segala janjinya, keyakinan itu yang mereka pegang erat-erat.
Di awal awal kedatangan di tempat tugas anyar tersebut, mereka bertiga benar-benar sudah kehabisan amunisi, uang di kantong tinggal 75 ribuan. Mereka pun memutar otak. Mereka terus menjalin interaksi lebih jauh dengan masyarakat.
Ibarat kata pepatah: Tak Kenal Maka Tak Sayang, setelah beberapa minggu melakukan silaturrahhim, sungguh diluar dugaan hasilnya kami pun tak jarang diantari beras, kadang-kadang makanan yang sudah masak dan aneka hasil bumi lainnya menghiasi dapur kami, kisah Rusdin.
“Padahal kami tak punya sawah, tapi beras bertumpuk, tak punya kebun tapi pisang-pisang berdatangan dan masih banyak lagi pemberian-pemberian masyarakat yang tak bisa dihitung lagi. Subahanallah, ini bukan sesuatu yang kebetulan,” begitu Rusdin kerap berguman kepada istri dan rekannya.
Beratnya Jalan Dakwah
Seiring dengan perjalanan waktu, kini genap satu tahun 8 bulan sejak bulan Mei 2011 Rusdin dan istri menapaki jalan dakwah. Setiap detik memahami dan harus memastikan diri ini untuk terus bermujahadah.
Karena diakuinya terkadang pada masa-masa tertentu sifat manusiawi kita tak mampu menghadapi semuanya. Pahit dan sulit rasanya untuk menghadapinya kalau tanpa pertolongan Allah, ujarnya.
“Dakwah senantiasa diuji dengan kegelisahan-kegelisahan perasaan, kegalauan dan kebosanan dalam sebuah perjalanan dan saya senantiasa berperang dan bertarung dengan perasaan hingga saat ini,” imbuh Rusdin yang mengakui dakwah itu juga merupakan pekerjaan hati.
Rusdin sadar betul kelemahannya sebagai manusia. Sehingga sewaktu-waktu ia nyaris terhempas keluar, terhempas nafsu yang senantiasa setiap waktu menekan erat batin ini.
Namun dengan segala kemampuan terus mengerahkan energi pikir dan zikir, serta memahami sebagai orang yang sudah terlanjur terjun dalam perjalanan dakwah bahwa diri ini akan mengorbankan kehidupan, jiwa dan hati demi kehidupan orang lain,
Rusdin bersama istri dan Nurkholis terus berbuat yang bermanfaat untuk umat. Awalnya mereka mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di tempat kediamannya. Lambat laun semakin hari anak-anak semakin banyak, istrinya pun memanfaatkan sedikit kemampuannya untuk buka kursus Bahasa Inggris.
“Walaupun bukan ahli bahasa Inggris, paling tidak untuk anak-anak yang dasar-dasar saja. Dari situlah masyarakat mengenal kami, karena anak-anaknya mendapat bimbingan dari kami,” ujar Rusdin.
Berbekal semangat silaturrahim akhirnya bersama koleganya dari STAIL Ustadz Nurkholis, mulai mendiskusikan keinginan untuk segera mendapatkan lahan untuk pembangunan pondok pesantren sebagai tempat kegiatan pembinaan agama dan masyarakat.
Setelah beberapa bulan melakukan silaturrahim, Alhamdulillah tak disangka mereka mendapatkan lokasi di 2 tempat yang berbeda. Masing-masing 4 hektar yang berada di Desa Baturaja dan 2,5 hektar lahan sawah yang tidak produktif lagi di Desa Cemara Jaya yang diwakafkan dari pemerintah desa setempat ke Hidayatullah.
Kemudian di ibukota kabupaten yang jaraknya sekitar 4 jam dari tempatnya kini, pihaknya mendapatkan amanah mengelola tanah wakaf 4 Hektar plus bangunan dari wakil bupati, yang sekarang dikelola oleh kawan-kawan diantaranya Ust Nurhadi dan Usadz Yusuf, dua-duanya alumni STAIL. Sekarang mereka berdua sudah mendirikan Madrasah Ibtida’iyah formal.
Bangun Guest House untuk Dai
Berdakwah selain memang nikmat, di waktu yang sama ia juga harus dipikul dengan kesiapan mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Dukanya tentu tidak sedikit.
Pernah suatu waktu Rusdin Mancu dengan koleganya mendapat teror dan sampai mencuat ada statemen bahwa dirinya mau diserang. Keruan saja hal itu sempat membuat nyali mereka menciut. Syukurnya, masyarakat yang sudah akrab dengan kegiatan dakwahnya memberikan semangat.
Pernah jugasaat itu teman saya sempat dilaporkan ke kantor polisi. Namun, Alhamdulillah, lagi-lagi ternyata hanya fitnah. Pemicunya sebenarnya sepele, hanya karena masalah kemiringan shaf.
“Tidak usah takut, itu hanya ancaman yang datang dari satu atau dua orang saja yang tidak senang dengan dakwah Islam,” demikian ungkap ketua RT setempat Bapak Samiun, ketika itu.
Akhirnya dengan segala kesabaran dan berkat pertolongan Allah melalui perantaraan masyarakat, pihaknya dipertemukan dengan Bapak Bupati, Hein Namotemo, untuk menyampaikan gagasan mereka untuk Halmahera Timur.
Tepatnya, pada tanggal 17 Juli 2011 sebelum Ramadhan, bapak bupati dihadapan Muspida dan Muspika serta ribuan masyarakat yang hadir menyampaikan dukungannya atas hadirnya Pesantren Hidayatullah di Halmahera Timur. Kedatangan buapti itu juga dalam rangka melakukan peletakkan batu pertama akan dibangunnya Pondok Pesantren Hidayatullah di bumi Halmahera.
Di atas lahan seluas 2,5 hektar itu kini telah berdiri bangunan masjid, asrama sederhana, dan madrasah diniyah. Saat ini juga sedang akan dibangun bangunan gedung representatif berupa Guest House (Rumah Da’i) bagi tenaga-tenaga dai yang akan dikerahkan ke Haltim.
Kini disela-sela kesibukan mengelola perjalanan pondok pesantren, Rusdin bersama Ustadz Nurkholis tengah mengelola dan membina forum majelis ta’lim ibu-ibu yang jumlahnya sekitar 800 orang yang tersebar di 2 kecamatan dan 10 desa. Juga secara rutin menyelenggarakan Training Bina Aqidah (TBA) untuk kalangan remaja setiap pekan pada hari Sabtu malam, dan kegiatan-kegiatan jangka panjang lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Rusdin dan Nurcholis kadang merasa geli juga. “Kami seperti pejabat saja, sibuk keliling terus,” selorohnya seraya tertawa ringan. Ya, ibarat seorang pejabat yang jam terbangnya padat, sekarang ini mau tak mau mereka harus selalu siap menerima undangan untuk ngisi taushiyah keliling dari ke berbagai tempat.
Rusdin misalnya, saat ini merasa kewalahan, karena setiap minggu harus mengisi pengajian ibu-ibu dan menjadi khotib serta imam di beberapa masjid. Kalau di bulan Ramadhan ia jadi imam tetap di mushallah Polsek setempat, serta ditunjuk oleh pengurus masjid raya setempat untuk membidangi persoalan remaja masjid.
“Jadi ustadz tulen, he-he-he. Padahal bekal dari bangku kuliah membahas masalah ekonomi, eh tau-taunya di Haltim jadi ustadz beneran,” kata Rusdin yang juga alumni STIE Hidayatullah jurusan Akuntansi ini.
Rusdin mengaku tak pernah tersebut terbayangkan di benaknya, itu tapi itulah aksioma kehidupan yang harus dijalani secara dinamis, ujarnya. Karena ia menyadari bahwa masyarakat adat tidak melihat latar belakang akademik kita, sehingga ia merasakan banyak manfaat, ibroh dan hikmah dari sekilas perjalanan dakwah ini walaupun hanya baru setahun lebih.
Dai Adalah Pembelajar
Menjadi seorang dai berarti memilih menjadi seorang pembelajar yang tak pernah berhenti belajar dan bekerja keras. Itulah yang menjadi motto Rusdin Mancu dalam menjalankan amanah dakwah Islam ini.
“Setiap saat, sebagai dai, kita harus muhasabah meningkatkan potensi diri untuk terus belajar. Karena memyampaikan taushiah kepada masyarakat tidak sekedar nyeletuk, melawak dan bercuap-cuap, tapi harus punya referensi dan kesiapan ilmu yang mapan,” kata ayah satu anak ini.
Untuk itulah, Rusdin berkomitmen wajib membaca satu buku setiap hari walaupun membacanya tidak tuntas. Kegiatan lain yang ikut mewarnai aktivitas dakwahnya, ia dan istri memanfaatkan pekarangan di sekitar untuk bercocok tanam dan membuat kolam ikan untuk nafkah sehari-hari. Alhamdulillah, hasilnya sudah bisa dinikmati, minimal mengurangi anggaran untuk belanja di luar.
Rusdin mengatakan, walaupun saat ini kegiatan berbisnis sudah tidak jalan lagi namun kebutuhan-kebutuhan sehari-hari mereka selalu tercukupi, tidak pernah kurang. Ia pun selalu teringat apa yang sering disampaikan oleh salah seorang dai sepuh Hidayatullah, Ustadz Usman Palesse: “Walaupun makan sambel sama tahu, kalau Bismilah-nya mantap, Insya Allah terasa Burger”.
Pihaknya tak lupa memohon kepada kaum Muslimin untuk terus mendoakan semua dan saling mendoakan dan menguatkan karena dunia dakwah di masa-masa mendatang yang hadapi, utamanya di Haltim, akan semakin kompleks.
Rusdin berprinsip masuknya kita ke dunia dakwah bermakna kita harus mengorbankan segalanya. Mewakafkan apa yang ada di sisi kita. Diri, harta, masa, perasaan serta jiwa dan cinta kita untuk mengarungi jalan yang penuh onak dan duri ini.
“Keberadaan kita di jalan ini bermakna kita akan kehilangan segalanya yang bernama dunia. Hilang bukan bermakna kita menolak dunia, tetapi kita harus kongsikan dengan perjuangan ini. Perjuangan yang meminta segala-galanya dari hidup kita, hatta air mata yang tiada nilainya inipun menjadi haknya,” tutupnya. *Imanuddin
Rubrik ini atas kerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Bantu dakwah mereka melalui Rekening Bank: Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 9254-5369-72 a/n Pos Dai. Program dakwah dapat di klik di www.posdai.com