Hidayatullah.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Bank Indonesia (BI) mengadakan Sarasehan Nasional dan Keuangan Syariah. Kegiatan ini merupakan refleksi dalam memperingati kemerdekaan yang ke-80 Republik Indonesia.
Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas menekankan Majelis Ulama Indonesia berkomitmen mendukung akselerasi ekonomi syariah nasional.
“MUI memiliki komitmen yang teguh dalam mendukung pengembangan ekonomi syariah nasional. Dukungan ini tidak hanya sekadar memberikan fatwa, melainkan juga aktif terlibat dalam berbagai program strategis,” kata Anwar Abas dalam sambutannya, Rabu, (13/08/2025).
Menurut Buya Abbas, sebagai negara dengan mayoritas penduduk yang memeluk agama Islam, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi kiblat bagi ekonomi syariah dunia.
Hal tersebut dapat diwujudkan dengan membentuk pondasi ekonomi syariah yang baik dan memperhatikan nilai-nilai keislaman universal di dalamnya. “Ekonomi syariah bukan sekadar sistem ekonomi alternatif, melainkan sebuah manifestasi dari nilai-nilai keislaman universal, yakni keadilan, kemaslahatan dan keberkahan,” kata Buya Abbas.
“Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi utama dalam membangun ekonomi syariah yang kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Indonesia memerlukan kolaborasi lintas yang melibatkan beberapa pihak. Buya Abbas menegaskan bahwa tidak ada pihak yang mampu berjalan sendiri untuk mewujudkan visi tersebut.
Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci utama untuk dapat mewujudkan visi besar Indonesia sebagai pusat ekonomi dunia.
Buya Abbas menyebut MUI sebagai organisasi ulama memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman universal tersebut do tengah masyarakat, sementara pemerintah, Bank Indonesia, dan institusi lain memiliki peran dalam merumuskan kebijakan.
“Oleh karena itu, kita perlu terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan multipihak, termasuk kementerian, lembaga, akademisi, hingga komunitas,”pungkas aktivis Muhammadiyah ini.*




