Hidayatullah.com– Puncak haji (wukuf) di Padang Arafah telah berlangsung pada Sabtu (11/08/2019) waktu Arab Saudi, diikuti lebih dari 2,5 juta jamaah haji dari seluruh dunia. Menjadi haji yang mabrur merupakan harapan semua jamaah.
Lantas bagaimana ciri-ciri jamaah yang telah memperoleh haji mabrur?
Amirul Hajj sekaligus Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin bercerita, suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya oleh para Sahabat mengenai ciri-ciri kemabruran.
Ternyata, tutur Menag, jawaban Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat sederhana tapi bermakna besar. Yakni, memberi makan sesama manusia.
Disebutkan bahwa makan sesungguhnya simbol dari kebutuhan pokok setiap manusia.
“Ketika kita bertanya apakah haji kita mabrur, seberapa besar kita peduli terhadap kebutuhan pokok sesama kita, makan simbol kebutuhan pokok itu,” jelas Menag saat memberi sambutan pada puncak ibadah haji, wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi, Sabtu (10/08/2019).
Baca: Jamaah Haji Wukuf di Bawah Suhu Panas 36 derajat Celsius
Dijelaskan bahwa kehadiran seorang Muslim adalah mampu mewujudkan serta menghadirkan kedamaian, keamanan sebagai kebutuhan pokok manusia.
Menag menegaskan pun bahwa Islam adalah agama kemanusiaan.
“Allah meniupkan ruh pada janin yang ada pada rahim ibu kita. Jadi pada diri setiap manusia, tidak peduli apa pun etnisnya apapun rasnya, apa pun jenis kelamin, termasuk apa pun agama yang dianut, ada bagian dari Tuhan yang ditiupkan ke dalam diri setiap manusia,” tegasnya kutip MCH, Ahad (11/08/2019).
Menag mengatakan, wukuf di Padang Arafah adalah medium kembali ke jati diri. Kemampuan untuk berkontemplasi, berdiam diri melakukan refleksi mengenali jati diri sesungguhnya sebagai manusia.
Hal ini sesuai dengan ajaran agama Islam yang menitiktekankan pada aspek kemanusiaan.
“Wukuf adalah medium bagaimana kita mampu kembali ke jati diri. Ketika kita mengenali diri kita sendiri, kita pun mampu mengenali Tuhan kita,” jelasnya.
Menag Lukman pun mengaku bersyukur berada di Padang Arafah, melaksanakan wukuf sebagai puncak rangkaian ibadah haji. Tidak ada ibadah yang rangkaiannya begitu panjang seperti haji. Tak hanya hitungan menit, jam hari, bahkan minggu.
Menag berharap, melalui wukuf di Arafah mampu mengajak manusia kembali merenungi diri sendiri. Lalu mampu menghadirkan eksistensi di tengah masyarakat, melalui kemampuan memenuhi kebutuhan pokok seperti kepedulian sosial, yang di dalamnya ada jaminan rasa aman, damai.
Menag juga mengapresiasi pelaksanaan layanan ibadah haji yang terus meningkat. Hal ini dikatakan hasil upaya para petugas haji, dimana negara sejak bertahun tahun silam memfasilitasi penyelenggaraan ibadah haji.
Capaian itu dinilai buah dari kerja sama semua pihak. Tidak hanya Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan tetapi juga jajaran eksekutif, Kementerian Luar Negeri dan lainnya.
“Apa yang sudah menjadi capaian, kita rawat dengan sebaik-baiknya, dan upaya kita meningkatkan kenyamanan jamaah hakekatnya adalah washilah semata, ini bukan tujuan, perantara, karena tujuan berhaji hakekatnya adalah kemabruran,” ujarnya.*