Hidayatullah.com–Seorang waria asal Jember, Sutika bin Marwapi (42), berangkat menunaikan ibadah haji dengan Kloter 69. Ia mengaku, kepergiannya ke Tanah Suci untuk bertobat dari semua yang ia lakukan selama ini.
“Sebagai Muslim, saya ingin menunaikan ibadah haji, tapi kalau saya seperti begini ya takdir. Di Tanah Suci, saya ingin bertobat, agar masuk surga, apalagi keluarga saya sebenarnya termasuk orang yang ngerti (taat beragama),” katanya dikutip Antara, Senin (14/10/2012).
Ditemui di Gedung A-2 Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), waria asal Desa Cangkring Baru, Kecamatan Jenggawah, Jember itu mengaku dirinya bertobat di Tanah Suci, karena dirinya menjadi waria, padahal semua itu bukan keinginan dirinya.
Meski waria, kepergiannya ini tetap saja didaftarkan sebagai seorang berjenis kelamin laki-laki. Hanya saja, kepergian hajinya ini tak diimbangi dengan keseriusan. Sebab ia mengaku, setelah berhaji akat tetap kembali layaknya wanita.
“Saya berangkat dengan KTP laki-laki, karena petugas Imigrasi memeriksa saya dan saya dinyatakan sebagai laki-laki, tapi sepulang dari Tanah Suci, saya akan tetap konsisten sebagai wanita, karena saya sudah bersumpah di hadapan orang tua bila saya adalah wanita,” katanya.
Mengenai perasaan dirinya sebagai wanita yang dikumpulkan di ruangan laki-laki saat menunaikan ibadah haji dari asrama haji hingga Tanah Suci, ia mengaku biasa saja.
“Saya justru bisa latihan untuk menahan emosi,” katanya, didampingi petugas Kloter 69, Wahib.
Tentang harapan kepada para waria yang Muslim, ia mengingatkan kaum waria untuk tetap menjalankan ibadah secara maksimal, termasuk beribadah haji.
“Saya mengajak teman-teman waria yang belum punya uang untuk umroh,” katanya.
Kasus yang dialami Sutikah ini pernah dialami oleh mantan Ketua Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos), Pangky Kentut. Tatkala Pangky dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala (meninggal, red), perangkat desa dan modin memutuskan dishalati dan dimandikan sebagaimana layaknya laki-laki.
Kasus ini mengingatkan firman Allah dalam al-Quran Surat an-Najm: 45, yang artinya;
“Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan.” [QS: an-Najm: 45).
Bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala hanya menciptakan dua jenis pasangan, laki-laki dan perempuan dan kelak manusia tetap menghadap dalam kondisi tersebut.*