Tadi malam, ibu kota Irak, Bagdag telah jatuh ke tangan penjajah AS dan sekutunya tanpa ada perlawanan berarti. Praktis, negara dengan julukan 1001 malam itu telah tidak bisa berfungsi. Kemenangan pasukan penjajah menguasai pusat ibu kota ini sebagai bentuk kemenangan sementara pasukan penjajah. Anggota-anggota tentera Iraq juga dikabarkan tidak kelihatan di jalan-jalan utama di sekitar Baghdad. Ini kemudian menyebabkan penduduk Baghdad bebas menyerbu masuk ke toko-toko dan gedung bisnis untuk menjarah berbagai barang jarahan. Untuk semantara waktu, keadaan ini menunjukkan bahwa pemerintah pimpinan Saddam yang telah memerintah selama 23 tahun, tidak lagi menguasai ibu negara mereka Sementara Saddam Hussein dan sejumlah pejabat pentingnya, termasuk tentara-tentara tangguhnya tidak kelihatan. Teka-teka ini sekaligus masih menyiratkan banyak tanda tanya. Saddam telah menghilang selamanya atau hanya menatur strategi untuk sementara waktu. Koresponden LBC, Sultan Suleiman mengatakan, tidak ada seorang pun menteri termasuk Menteri Penerangan, Mohammed Saeed Al-Sahaf muncul di Hotel Palestine, yang biasa menjadi tempat penginapan wartawan asing hari ini. Petugas Kementerian Penerangan yang biasa sering mengiringi wartawan-wartawan asing hampir tiga minggu sejak perang meletus, juga tidak lagi kelihatan di tempat yang sama hari ini. Siaran radio di Baghdad juga tidak mengudara sejak pesawat tempur AS menggempur bangunan di daerah Al-Mansour petang kelmarin. Ia hanya menyiarkan lagu-lagu patriotik saja. Juru bicara Pusat Pemerintah Tentera AS di Qatar, Kapten Frank Thorp mengatakan , masih terlalu awal untuk mengatakan misi tentera AS sudah selesai. Mungkin akan terjadi lagi serangan dari para pejuang Iraq dan kami perlu berhati-hati. katanya. Walau Bagdag telah jatuh, beberapa sumber mentakan Saddam Hussein dan kedua putranya kemungkinan masih hidup dan bersembunyi di daerah Baghdad timur laut. Pemimpin oposisi Irak, Ahmad Chalabi kepada jaringan televisi CNN, Rabu (Kamis WIB) megatakan, Kami tidak memiliki bukti-bukti bahwa mereka telah terbunuh dalam serangan itu,” kata Chalabi mengacu pada pemboman yang dilakukan pesawat AS ke sebuah gedung yang diyakini ketiga orang tersebut berada di dalamnya pada hari Senin lalu. Chalabi, pemimpin Kongres Nasional Irak, juga mempertanyakan klaim pasukan AS dan Inggeris bahwa saudara sepupu Saddam, Ali Hassan al-Majid yang dikenal dengan nama “Chemical Ali” karena memerintahkan serangan gas beracun terhadap warga Kurdi pada tahun 1988, telah tewas. Kekalahan dan ketahuhan Iraq telah bisa diduga banyak orang sebelumnya. Bagaimana mungkin sebuah negara kecil yang tengah dilanda krisis harus menghadapi keroyokan banyak negara penjajah dengan peralahan serba canggihnya. Meski Baghdad telah jatuh, serangan balasan bisa saja muncul di hari-hari mendatang. (Afp/ap/cha)