Hidayatullah.com–Beberapa penduduk Iraq memberitahu agen berita Arab, bahwa para pasukan AS itu membeli al-Dashdasha (pakaian longgar Arab-Iraq) guna membantu mereka melarikan diri dan keluar dari Iraq.
Kebanyak dari mereka keluar dari wilayah Bagdad untuk kemudian memasuki wilayah Kuwait dan Turki.
Seorang penjual baju, Saeed al-Aidany, mengatakan, “Kami terkejut juga karena banyak pasukan AS membeli al-Dashdasha dan kami baru tahu mereka menggunakannya untuk lari ke negara Teluk lain.”
Menurut Aidany, pasukan AS itu juga dilihat membeli pakaian Kurdis untuk masuk ke Turki dari utara Iraq.
Abdul Amir al-Hasnawi, seorang sopir truk mengatakan dia membantu dua pasukan AS lari ke Kuwait.
“Dua pasukan kulit hitam AS tiba di Basra dengan bantuan seorang perunding Kristen di Baghdad yang pernah menjadi penterjemah mereka.
“Tentera AS itu memakai pakaian jeans dan saya membantu mereka masuk ke Kuwait dengan bayaran 450 USD untuk tiap orang.
“Perunding mereka memberitahu saya bahwa dua pasukan AS itu tidak mau dibunuh di Iraq tanpa sebab apapun,” kata Hasnawi.
Kazem al-Badri, seorang sopir taksi setempat menceritakan, bahwa taksi dan sopir truk di Iraq siap menghadapi resiko diperiksa atau menjadi pemandu bagi pasukan AS untuk lari dari negara mereka jika siap memberi bayaran besar.
“Ini bukan kabar angin atau propaganda Iraq tetapi fakta karena saya sendiri kenal banyak sopir yang membantu pasukan AS lari dari Iraq,“ kata Badri.
Menurutnya, bayaran pada awalnya ditetapkan sebanyak 5000 USD tiap pasukan sebelum kemudian turun menjadi 500 USD.
Tak urung kabar ini membuat pejabat militer AS kebakaran jenggot. Seorang kolonel AS membatanh dengan mengatakan 2500 pasukan AS yang diberitakan disersi itu sengaja disebarkan oleh pendukung Partai Baath dan Saddam Hussein.
Meskipun demikian, sebuah koran Iraq baru-baru ini melaporkan bahwa CIA sudah mendeteksi sejumlah pasukan AS yang dikabarkan telah desetif tersebut.
Koran al-Qabas melaporkan, CIA baru-baru ini menahan tiga tentara dan mendakwa mereka lari dalam tugas. (bh)