Hidayatullah.com–Kaher, yang berusia sebelas tahun, terjatuh dari atap rumahnya. Seminggu kemudian, dokter yang merawatnya menyatakan dia mengalami mati otak. Kondisi tersebut membuat kematian terpampang di hadapannnya.
Di ujung hidupnya, Kaher sempat menyelamatkan nyawa tiga anak Israel dengan mentransplantasikan organ tubuhnya kepada mereka. Sementara orang dewasa kedua negara saling membunuh.
“Bagi kami tidak menjadi masalah siapa yang menerima organ itu. Yahudi atau Arab itu tidak penting. Yang penting, kami telah berusaha menyelamatkan nyawa anak-anak,” kata Raed Uda, saudara laki-laki Uda, kepada harian the Yediot Aharonot.
Kaher adalah bungsu dari 14 bersaudara pada sebuah keluarga Palestina yang tinggal di Tepi Barat. Setelah tertimpa musibah tersebut, sebagian organ tubuhnya diambil untuk ditransplantasikan kepada ketiga anak Israel tadi.
Keluarga Uda tidak mempermasalah hal itu. “Kami mendukung seluruh proses transplantasi dengan bahagia, karena mampu menolong jiwa sesama. Sekaligus kami sedih karena kehilangan adik kami tercinta,” kata Raed.
Operasi transplantasi organ Kaher dilakukan di Rumah Sakit Beilinson di Petah Tikva, dekat ibu kota Israel, Tel Aviv. Operasi pencangkokan yang dilakukan dokter di rumah sakit itu tergolong langka dan rumit.
Namun, mereka berhasil melakukannya dengan lancar. Ketiga anak Israel yang menerima cangkok organ Kaher berhasil diselamatkan dari penyakit yang diderita.
Seorang gadis Israel berusia 13 tahun menerima cangkok paru-paru Kaher. Dia terserang penyakit cystic fibrosis dan telah merusak paru-parunya. Bukan cuma paru-paru. Gadis itu juga menerima jantung Kaher meski jantungnya sendiri masih sehat. “Untuk meningkatkan peluang keberhasilan cangkok paru-paru, dia perlu mendapat jantung baru pula,” jelas juru bicara rumah sakit itu, Vered Kvitel.
Sementara jantung gadis itu, yang masih sehat, ditransplantasikan kepada anak perempuan lainnya yang berusia 11 tahun. Menurut Kvitel, itu kali pertama pencangkokan dilangsungkan dari donor yang masih hidup di Israel.
Selain paru-paru dan jantung, ginjal Uda juga diambil. Organ tersebut ditransplantasikan kepada seorang anak laki-laki Israel berusia 11 tahun yang menderita penyakit hati yang mempengaruhi ginjalnya.
Semua proses operasi itu berlangsung di tengah ketegangan Palestina-Israel karena tersendatnya pembicaraan Peta Jalan Damai kedua negara. Kaher dan keluarganya mengabaikan pertikaian tersebut.
Hal yang kurang lebih sama terjadi di Norwegia. Anak-anak Palestina dan Israel, yang berusia antara 12-14 tahun, bersatu dalam satu tim sepak bola “Tim Damai”.
Mereka berlaga dalam sebuah turnamen sepak bola internasional untuk anak-anak. Tim gabungan itu menunjukkan hasil gemilang dengan mengalahkan tim tuan rumah Norwegia. (ananova/afp/jp)