Hidayatullah.com–Berita ini dilansir Radio Australia dalam situsnya di www.abc.net.au, (12/12/03), Jum’at ini. Menurut para ahli museum, ke-90 uang logam dari tembaga itu berlubang segi-6 di tengahnya dan bertuliskan Arab yang berbunyi “baginda Raja Bantam” dalam bahasa Jawa.
Bantam, yang menurut sejarah diperkirakan di wilayah Propinsi Banten lama, dikenal banyak menyimpan peninggalan sejarah Islam.
Konon nama Banten digunakan semenjak Maulana Hasanuddin memerintah Kesultanan Banten. nama Banten berasal dari kata “batang”. Kala itu, pusat kerajaan yang digunakan oleh Prabu Pucuk Umum penguasa kerajaan Sunda terakhir adalah daerah Pasir Batang Rulon (Banten Ginang). Oleh orang-orang Arab kata “batang”, sering diucapkan dengan sebutan “ba’tan”. Ucapan “ba’tan” yang sering disebut orang-orang Arab ini kemudian didengar oleh orang Eropa yang kemudian mengucapkannya sebagai “bantam”.
Dengan menyebut : orang-orang Arab dan Eropa tergambar selintas, bahwa Banten ketika dikuasai oleh Kerajaan Sunda Pajajaran sudah dikenal di berbagai belahan dunia sebagai kota pelabuhan yang mengekspor beras, lada dan makanan. Salah seorang pedagang Portugis Tom Pires pada tahun 1513 telah mengunjungi Banten. Menurutnya, pada saat itu, pelabuhan Banten sebagai pelabuhan kedua, sesudah Sunda Kelapa.
Di bawah Maulana Hasanuddin di abad 16-17, menggantikan Ayahandanya Fatahillah Sultan Surosowan, wajah Bantam atau Banten dikenal sebagai kerajaan yang sangat Islami.
Tak jelas, bagaimana uang logam kuno itu sampai berada di London. Apakah kerajaan Banten kala itu sempat melakukan ekspansinya hingga ke Eropa atau bukan hingga kini bukti sejarah ini masih merupakan misteri. (abcn/cha)




