Hidayatullah.com–Sebuah pertemuan darurat dari 60 penyelenggara umrah dan haji Mekah dan Madinah, digelar hari Rabu, 19 Agustus. Mereka membahas kerugian akibat kasus Flu Babi, yang mengurangi kedatangan jemaah umrah dan haji ke tanah Suci.
Untuk perhotelan di Mekah tahun ini diperkirakan akan mengalami kerugian sampai 90 persen, sementara kalangan pengusaha hotel di Madinah mengaku bakal rugi besar hingga 70 persen untuk musim umrah Ramadhan tahun ini.
Para pengusaha itu menyatakan bahwa kerugian adalah karena merebaknya Flu Babi, yang membuat jemaah umrah Iran dan Mesir tak datang. Juga, faktor visa yang semakijn ketat. Beberapa perusahaan itu menaksir kerugian sampai SR1 miliar.
Pemilik perusahaan juga khawatir kerugian akan terus meningkat jika pihak berwenang gagal bertindak pada penyebaran Flu Babi, dan juga jika pemerintah tetap mengenakan pembatasan usia jemaah haji.
Fahd al-Wudhainani, pemilik perusahaan yang beroperasi di zona pusat Mekah, mendesak Departemen Kesehatan membuat sebuah ruang bersama dengan perusahaan umrah, operator hotel, dan pihak ketiga, seperti Departemen Haji untuk membahas Flu Babi demi perlindungan jemaah. Sebab, banyak dari mereka yang membatalkan rencana haji dan umrah tahun ini.
“Kami sudah siap memberikan vaksin Flu Babi ke setiap peziarah yang tiba di Arab Saudi,” kata Ibrahim al-Zahrani, operator hotel di Mekah. Menurut Al-Zahrani, peran media telah membuat ketakutan. Padahal, Mekah memiliki kasus Flu Babi terendah di Arab Saudi.
Para pengusaha itu menyatakan bahwa angka hunian hotel pada bulan suci Ramadhan ini diperkirakan hanya sampai 30 hingga 40 persen. Menurut seorang pemilik 60 hotel di Mekah dalam pertemuan itu, mereka dekat kebangkrutan karena telah menanamkan modal yang besar untuk itu.
Menurut Marwan Hifdhi, Wakil Ketua Komite Hotel dan Pariwisata Madina dari Kamar Dagang dan Industri, hotel di sekitar Masjid Nabawi saat ini biasanya penuh.
“Sebagian besar perusahaan penyelenggara umrah telah menderita kerugian besar, yang akan meningkat di bulan Ramadhan karena pembatalan,” katanya, seperti dikutip Saudi Gazette edisi Kamis, 20 Agustus hari ini. Beberapa hotel bintang lima telah menawarkan penurunan harga.
“Beberapa hotel bintang lima menawarkan kamar SR450 per malam.”
Kalangan perhotelan menyebut, ada penurunan tarif hingga 50%. “Kamar bertarif 300 Riyal, sekarang dapat dipesan dengan harga 150 Riyal,” kata Al-Nami Amri, manajer Ilyas Hotel. “Jemaah asal Tunisia, misalnya, telah membatalkan perjanjian dan kebanyakan toko lokal sedang berjuang untuk membayar sewa mereka.” [ihj/hidayatullah.com]