Mahasiswa dan pelajar Saudi yang telah tinggal di Amerika seperti diinformasikan Kedubes Saudi di Amerika dikabarkan terancam tidak melanjutkan studi mereka akibat munculnya undang-undang AS yang diskriminatif terhadap negara Islam sesaat setelah kasus 11 September.
Seperti diketahui, menurut peraturan Amerika yang baru, mereka diwajibkan melaporkan ke kantor imigrasi terdekat guna diambil sidik jari, cap jempol dan interview secara rahasia. Mereka juga menceritakan diwajibkan memperbaharui surat izin resmi program studi, data-data perkiraan masa kelulusan dan beberapa informasi penting lain. Surat edaran yang dikirimkan oleh kantor imigrasi AS itu dibatasi sampai akhir bulan Oktober.
Berbicara pada Arab News dari Washington, Ahmed Al-Aswad, perwakilan resmi staf kebudayaan Kedubes Saudi mengatakan bahwa para pelajar diharuskan menunggu sebelum kedatangan aparat imigrasi. “Kami telah mengirim informasi edaran melalui email kepada mereka dan mereka harus menunggu sampai perkembangan terbaru selesai”, katanya tanpa merinci apa yang dimaksud tentang ‘perkembangan’ terbaru itu.
Menurut data resmi pihak Kedubes Saudi di AS, tidak kurang 300 pelajar Saudi telah menolak kembali ke AS semenjak peristiwa 11 September. Kebanyakan diantara mereka telah kembali ke Saudi dan tidak memperpanjang lagi visa belajarnya. Mereka juga secara terpaksa harus membatalkan proses belajarnya dan lebih memilih alternatif studi di wilayah Eropa dan Asia.
Perlakukan pihak imigrasi AS terhadap warga negara Arab Saudi dan negara Islam seperti memberlakukan semua pria yang berumur 16 sampai 45 tahun untuk diambil foto dan cap jari, termasuk keharusan untuk mendaftarkan dan memperbarui surat izin perjalanan mereka yang tidak boleh melebihi 30 hari tinggal dirasakan sebagai perlakukan ketat yang amat diskriminatif.
Sebagai pembalasan perlakukan pemerintah AS itu, beberapa saat lalu, pemerintahan Saudi telah memberlakukan izin ketat bagi warga AS yang masuk ke wilayahnya, termasuk pemberlakukan cap jari. “Perjanjian kami dengan negara lain akan diberlakukan saling menghormati. Kami akan mengadakan perjanjian pada setiap negara sepanjang dia juga menghargai pernjian dengan kami”, ucap Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi pada beberapa wartawan minggu lalu. Sebelum ini, AS bahkan memperlakukan sikap sewenang-wenang terhadap semua orang yang berstatus Islam. AS bahkan melakukan sweeping. AS pernah membesar-besarkan dan mengkritik Indonesia ketika muncul peristiwa sweeping di Solo yang kemudian tidak terbukti.
(AN/Cha)