Hidayatullah.com–Di tahun-tahun belakangan ini—dan khususnya setelah 11 September—banyak orang yang mengaku pakar yang mencoba menguji dan menganalisis Muslim di Amerika Serikat hanya melalui satu lensa. Tapi 11 September ini, The Domestic Crusaders, salah satu drama besar pertama tentang Muslim Amerika, akan mementaskan karakter Muslim Amerika yang kompleks, yang jauh berbeda dari penggambaran sederhana dalam propaganda politik ataupun Hollywood.
The Domestic Crusaders adalah judul yang kaya makna. Kata “crusade” (perang salib) menyiratkan potensi perpecahan agama dan intoleransi yang tragis, entah pada abad pertengahan atau sekarang. Drama ini mencoba meredakan kekuatan eksplosif istilah ini dengan menunjukkan kemanusiawian para Muslim Amerika yang menjadi bagian dari Timur dan Barat sekaligus. Mereka hanyalah orang-orang yang berusaha berbuat yang terbaik untuk menjalani hidup mereka, berjuang demi impian mereka, dan memahami diri mereka sendiri.
Enam karakter dalam drama ini mewakili tiga generasi dari sebuah keluarga. Mereka diceritakan sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahun ke-21 sang anak bungsu di rumah mereka di pinggiran kota. Dinamika keluarga ini memperlihatkan upaya mereka memaknai identitas dan keimanannya dalam dunia yang terus berubah.
Ada sang kakek, Hakim, seorang pensiunan jenderal Pakistan yang eksentrik, yang berbagi humor dan kearifan ketika menikmati secangkir teh hariannya. Cucunya, Fatima, ialah seorang mahasiswi hukum 24 tahun yang berkemauan kuat dan blak-blakan, juga aktivis yang berjilbab, dan yang cukup menjengkelkan bagi Khulsoom, ibunya yang imigran Pakistan. Khulsoom tidak setuju dengan aktivitas keagamaan dan politik anak perempuannya, dan alih-alih berharap ia mendapatkan suami yang baik.
Fatima, yang bukan penurut ataupun tertekan, bersikap kritis pada para lelaki di komunitasnya dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk ikut protes, meskipun kakak lelakinya, Salahuddin, mengejek aktivismenya sebagai “pejuang musiman”.
Ayah mereka, Salman, ialah seorang insinyur korporat yang sukses, yang terobsesi untuk memastikan anak-anaknya mengikuti jejaknya dan mengambil pekerjaan “berstatus tinggi”. Si bungsu, Ghafur, berjuang dengan identitasnya sebagai seorang Muslim Amerika dan visi ayahnya untuk sukses: belajar di sekolah kedokteran lalu mendapat pekerjaan bergaji tinggi. Akhirnya, Ghafur menolak menjadi dokter pertama dalam keluarganya dan memutuskan membuat rencana sendiri. Keputusan itu ia ambil setelah ia mengalami pelecehan berbau ras di bandara karena ia memelihara jenggot dan mengenakan peci tradisional kufi.
Lepas dari perbedaan agama, budaya, dan latar belakang keluarga yang nyata, para audiens bisa dengan mudah mengenali dan berempati pada keberhasilan dan tragedi tokoh-tokoh itu—persaingan saudara, perbedaan generasi, harapan orangtua dan upaya untuk berpegang pada sebuah agama dan budaya dalam sebuah masyarakat yang plural. Semua isu yang disinggung dalam drama ini melampaui sekat-sekat dan merupakan isu-isu yang dihadapi oleh setiap keluarga—entah Muslim Amerika atau bukan.
The Domestic Crusaders awalnya hanya cerita singkat yang saya buat untuk kelas penulisan ketika saya menjadi mahasiswa University of California, Berkeley pada 2001. Perjalanan drama ini mencerminkan perjalanan Amerika selepas 11 September: bergerak dari ketakutan menuju harapan. Sejak pentas perdana pada 2005 di Berkeley, saya dan tim telah mencoba menggelar pertunjukan di tempat-tempat lain, namun para direktur artistik di seluruh Amerika, yang secara pribadi berkata menyukai drama ini, ragu untuk mementaskan The Domestic Crusaders. Ini cermin suasana politik yang masih sensitif pada saat itu.
Kini Semua Berubah Nuyorican Poets Cafe yang terkenal sebagai pusat kegiatan budaya di kawasan tenggara Manhattan (biasa dikenal sebagai Lower East Side) New York City, sepakat untuk mementaskan The Domestic Crusaders. Setelah menghabiskan setahun berkeliling Amerika untuk menggalang dana dan menumbuhkan minat publik pada drama ini, akhirnya kami mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk memberikan kesempatan kepada para tokoh-tokoh pejuang ini untuk berbicara di atas panggung.
Hal-hal yang baik memang memakan waktu. Dan pada 11 September ini, hari penting yang selamanya akan mengingatkan dunia pada konsekuensi tragis dari ekstremisme, kegilaan dan kekerasan, The Domestic Crusaders akan mengawali debutnya di New York City dan mengingatkan kita bahwa cerita tidak saja punya kekuatan untuk menghibur dan mendidik, tapi bisa juga membangun jembatan pengertian dan penyembuhan. [artikel ini ditulis oleh Wajahat Ali (www.goatmilk.wordpress.com). Penulis, jurnalis, bloger dan pengacara. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews)/hidayatullah.com]




