Hidayatullah.com–Kegiatan para anggota pramuka dari kalangan Muslimah yang ikut serta menjadi relawan selama musim haji, direspon dengan keluarnya fatwa dari pihak tidak resmi, sebagaimana dilansir aljazeera.net (19/11).
Selama musim haji, pramuka Muslimah berbaur dengan jamaah haji dalam rangka ikut serta membantu anak-anak yang tersesat, dan mempublikasikan foto serta identitas mereka di situs resmi pramuka Saudi.
Aktivitas ini memacu keluarnya fatwa dari pihak tidak resmi. Dalam naskah fatwa yang dterima aljazeer.net disebutkan bahwa aktivitas yang dilakukan para pramuka itu termasuk ikhtilath yang disengaja dan tidak menghiraukan hijab. Dan aktivitas itu merupakan ide dari para penyeru baratisasi, dengan mendorong para wanita lalai melakukan aktivitas mereka.
Yang tidak setuju dengan aktivitas tersebut termasuk Dr. Yusuf Al Ahmad, pengajar di Fakultas Syari’ah di Riyadh. Ia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan perpanjangan tangan dari program liberal yang didukung Amerika, dalam melakukan baratisasi terhadap wanita Saudi.
Sedangkan dari pihak Yayasan Kepramukaan Wanita Saudi sendiri, melalui Muha Ahmad Fathi, bahwa bagian penting dari aktivitas mereka adalah menjaga anak-anak dari anggota jemaah haji yang tersesat.
Salah satu sumber menyatakan bahwa aktivitas para pramuka wanita tersebut resmi di bawah bimbingan langsung dari Kementerian Pendidikan dan Pengajaran Saudi, Amir Faisal bin Abdillah bin Muhammad Ali Saud. Namun hal itu ditentang oleh pemerintahan lokal. Setelah itu, mereka dibekali identitas resmi dari beberapa pihak yang bertanggung jawab, pascakeluarnya fatwa larangan tersebut.
Beberapa foto yang dipublikasikan di beberapa koran lokal menunjukkan bahwa aktivitas pramuka tersebut resmi, di mana menteri tersebut juga berada bersama mereka. [tho/jzr/hidayatullah.com]