Hidayatullah.com–Terungkapnya perihal sebuah perusahaan berbasis di London berkaitan dengan peristiwa ledakan di gudang pelabuhan Beirut tahun lalu, memperkuat kecurigaan bahwa tujuan amonium nitrat itu memang Beirut, bukan Mozambique seperti klaim yang muncul selama ini.
Perusahaan yang dipakai untuk mengapalkan ribuan ton amonium nitrat ke pelabuhan Beirut, di mana bahan kimia itu akhirnya meledak pada bulan Agustus 2020, memiliki keterkaitan dengan 3 pengusaha berpengaruh yang memiliki keterkaitan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Begitu menurut hasil investigasi terbaru, lansir The Guardian Jumat (15/1/2021).
Terungkapnya perihal Savaro Limited –sebuah perusahaan di London yang pada hari Selasa dicoret dari register Companies House– memperkuat kecurigaan bahwa Beirut memang tujuan asli kargo, bukan Mozambique, yang katanya merupakan tujuan akhir resmi muatan bahan kimia tersebut.
Investigasi yang dilakukan sineas Libanon Firas Hatoum, yang filmnya ditayangkan pekan ini di stasiun televisi lokal Al-Jadeed, menemukan keterkaitan antara Savaro dengan tiga tokoh pengusaha yang diketahui berusaha keras mempertahanakan rezim Assad sejak bulan-bulan awal perang sipil di Suriah yang pecah pada 2011.
Temuan itu juga, untuk pertama kalinya, memicu dugaan bahwa ledakan 2.750 ton amonium nitrat tersebut merupakan dampak samping dari upaya pejabat-pejabat Suriah mencari sumber nitrat untuk digunakan dalam pembuatan senjata rezim Bashar.
George Haswani, Mudalal Khuri dan saudara lelakinya Imad, merupakan warga negara Suriah sekaligus Rusia, yang ketiganya dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena mendukung perang yang dikobarkan Bashar al-Assad.
Perusahaan-perusahaan milik Haswani dan Imad Khuri menggunakan alamat sama seperti yang dipakai Savaro, perusahaan pembeli nitrat tersebut pada 2013. Dituliskan dalam dokumen pengapalan bahwa tujuan resminya adalah Mozambique. Akan tetapi pada kenyataannya kapal diubah haluan ke Beirut dan muatannya dibongkar di pelabuhan ibukota Libanon, tetangga Suriah.
Mudalal Khuri dituduh oleh Departemen Keuangan AS berusaha mencari sumber amonium nitrat beberapa bulan sebelum kapal kargo Rusia, Rhosus, merapat di Beirut dalam pelayaran dari Georgia.
Perubahan rute pelayaran, kepemilikan yang tidak jelas, dan misteriusnya pemasok kargo itu telah memperkuat kecurigaan bahwa memang sejatinya muatan amonium nitrat itu tujuan pengirimannya adalah Beirut, bukan daerah atau negara lain.
Alamat yang dipakai Savaro, yaitu 10 Great Russell Street, London WC1B 3BQ, rupanya juga merupakan alamat yang didaftarkan untuk Hesco Engineering and Construction, perusahaan yang dipimpin Haswani.
Haswani adalah seorang pengusaha, kaki tangan Assad dalam urusan bisnis, yang dikenai sanksi AS pada tahun 2015 karena dituduh membeli minyak atas nama pemerintah Suriah dari Islamic State (ISIS).
Menurut dokumen yang diterima dan diungkap Hatoum, alamat Savaro yang lain di London berkaitan dengan IK Petroleum, perusahaan yang sekarang sudah tidak aktif yang berkaitan dengan Hesco milik Hasnawi. IK Petroleum sampai tahun 2016 dipimpin oleh Imad Khuri.
Rusia sendiri, negara asal kapal kargo yang membawa amonium nitrat tersebut, adalah negara yang sejak awal perang di Suriah berdiri menyokong rezim Assad.
Di Libanon, hasil investigasi atas ledakan amonium nitrat tersebut yang dipimpin oleh seorang hakim, sejauh ini menetapkan pejabat sementara perdana menteri Hassan Diab sebagai terdakwa. Diab didakwa bersama 3 mantan menteri dan lebih dari 30 pejabat level rendah.
Pertanyaan kemudian, dari Beirut bagaimana cara membawa ribuan ton amonium nitrat itu ke Suriah?
Di negara super korup seperti Libanon apapun bisa terjadi, terlebih kelompok Syiah Hizbullah yang berpengaruh besar dalam politik Libanon adalah sekutu kuat Bashar al-Assad dan kekuatan persenjataan milisi Hizbullah jauh melampaui tentara pemerintah Libanon.*