Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Haniya: Hamas Akan Terima Referendum Perjanjian Perdamaian

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Desember 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Pemimpin senior Hamas, Ismail Haniya, mengatakan pada hari Rabu (1/12) bahwa kelompok Islam itu akan menerima perjanjian perdamaian dengan Israel jika rakyat Palestina menyetujuinya melalui referendum.

Pernyataannya itu tampaknya menandakan peralihan kebijakannya, jika dalam waktu lama selalu menolak menerima keabsahan Israel ataupun perjanjian perdamaian yang dirundingkan oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Hamas “akan menghormati hasil referendum meski hasil itu bertentangan dengan sikap Hamas,” kata Haniya pada konferensi pers yang jarang ia lakukan dengan wartawan-wartawan asing.

“Kami menerima negara Palestina dengan kedaulatan penuh di tanah yang diduduki pada 1967 dengan Jerusalem sebagai ibukotanya dan penyelesaian masalah pengungsi,” ia menambahkan.

Bagaimanapun, seorang pejabat pemerintah Israel menyatakan bahwa Haniya tidak pernah mengatakan secara eksplisit Hamas akan siap mengakhiri konfliknya dengan Israel.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Mereka tidak pernah mengatakan bahwa negara Palestina yang hidup berdampingan dengan Israel akan cukup bagi mereka, tapi lebih baik bahwa mereka akan menerimanya,” kata dia, yang berbicara tanpa menyebut nama. “Pemberitahuan yang tak pernah ia katakan bahwa mereka kemudian ingin hidup dengan Israel setelah itu.”

Hamas memang telah berulang kali mengejek pembicaraan dengan Israel sebagai membuang-buang waktu dan Haniya menyatakan ia masih tidak yakin bahwa pembicaraan perdamaian akan menghasilkan perjanjian.

“Tidak akan ada solusi dengan dua negara di tanah itu … Israel ingin tanah ini, perdamaian, dan keamanan dengan kami dan ini seuatu yang tidak mungkin.”

Hamas memperoleh kemenangan dalam pemilihan anggota parlemen pada 2006, mengalahkan kelompok Fatah pimpinan Abbas. Ketegangan yang telah berlangsung lama antara kedua saingan itu mendidih pada Juni 2007, ketika pasukan kelompok Islam itu mengalahkan Fatah dan merebut kekuasaan di Gaza.

Semua upaya rekonsiliasi antara kedua belah pihak, sebagian besar dari upaya itu ditengahi oleh Mesir, telah gagal. Fatah dan Hamas saling menuduh pihak lainnya telah merusak kepercayaan dengan menganiaya saingan-saingan politik di wilayah yang berada di bawah kekuasaan mereka.

Abbas memulai lagi pembicaraan langsung dengan Israel pada September lalu dengan tujuan mencapai perjanjian perdamaian dalam setahun.

Tapi pembicaraan macet beberapa pekan kemudian setelah Israel menolak memperbarui kembali moratorium 10 bulan terhadap pembangunan permukiman di Tepi Barat yang berakhir pada 26 September lalu.

Hamas acap kali mengkritik Abbas karena menyetujui pembicaraan dengan Israel.

“Pembicaraan dengan pendudukan hanya akan menghasilkan kegagalan,” kata jurubicara Hamas Sami Abu Zuhri pada AFP Maret lalu, setelah pertemuan para menteri luar negeri Arab di Kairo yang mendukung gagasan pembicaraan tidak langsung yang diperantarai AS.

“Alternatifnya bagi Abbas adalah kembali ke opsi patriotik, pada apa yang Arab dukung dan Palestina inginkan, opsi ketabahan dan perlawanan,” jelas Abu Zuhri.

Haniya Rabu juga menjawab pertanyaan mengenai kelompok garis keras di Gaza, tempat pengamat Israel dan lainnya mengkhawatirkan kelompok seperti Al Qaida memperoleh tempat berpijak.

“Al Qaida tidak ada di Jalur Gaza, tapi ada perlawanan pada pendudukan,” katanya, dan menambahkan bahwa kelompok perlawanan utama tidak bertindak di luar Gaza atau Palestina”.

Ia juga minta dimulainya kembali pembicaraan mengenai pembebasan prajurit Israel Gilad Shalit, yang ditahan di Gaza sejak penculikannya oleh gerilyawan garis keras Palestina dalam serangan lintas-batas Juni 2006.

Ia mengatakan, Hamas ingin mencapai perjanjian yang melibatkan “pertukaran terhormat” para tawanan.

Shalit telah tidak dilihat oleh pengamat luar atau wakil Palang Merah sejak penangkapannya dalam serangan mematikan di perbatasan Gaza itu.

Hamas, yang ikut serta dalam penculikan Shalit dengan beberapa kelompok gerilyawan lainnya, sedang berusaha membebaskan ratusan tawanan Palestina sebagai pertukaran bagi pembebasan prajurit itu, demikian laporan AFP. [ant/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya RI-AS Gelar Diskusi Agama di Markas PBB
Tulisan selanjutnya Kasus Hukum Belum Tuntas Pengaruhi Konstelasi Politik 2011

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?