Hidayatullah.com–Dengan wajah terbakar dan tangannya dibungkus perban, Presiden Yaman Ali Abdulllah Saleh muncul di televisi hari Kamis (07) untuk pertama kalinya sejak terluka akibat serangan di istana kepresidenan di Sana’a.
Saleh yang dirawat di Arab Saudi setelah serangan 3 Juni itu mengatakan telah menjalani sejumlah operasi yang sukses.
Dalam pidatonya yang ditayangkan televisi Yaman itu, Saleh menyeru dilakukannya dialog nasional untuk mengakhiri konflik di negaranya.
Menurut seorang tokoh oposisi yang tidak disebutkan namanya (07/7), Wakil Presiden Abdu Rabbu Mansur Hadi yang memegang kekuasaan selama Saleh dirawat, telah mengajukan alternatif penyelesaian masalah lain yang disarankan negara-negar Teluk.
“Intinya yaitu memulai periode transisi dengan membentuk sebuah pemerintahan nasional yang dipimpin oleh kelompok oposisi dan mengubah tanggal pemilihan presiden dari 60 hari menjadi waktu yang lebih lama, tanpa melimpahkan kekuasaan seluruhnya kepada wakil presiden.”
Bagi oposisi yang berharap Saleh akan segera meletakkan jabatan tak lama setelah terkena ledakan, usulan baru itu merupakan kemunduran. *