Hidayatullah.com–Sebanyak 80.000 eksemlpar buku pelajaran sejaran dan kewarganegaraan ditarik peredarannya oleh Menteri Pendidikan Mesir Ahmad Jamaluddin Musa, karena berisi gambar Husni Mubarak.
Para guru dan orangtua mengeluhkan buku pelajaran itu, yang dinilai berisi sejarah yang keliru. Mereka tidak ingin anak-anaknya mendapatkan pelajaran yang keliru.
Menurut sumber dari kementerian, buku-buku tersebut dicetak pada musim panas 2010, sebelum revolusi 25 Januari.
Sumber itu lebih jauh menjelaskan, masih ada 30 juta eksemplar lagi yang masih beredar, tapi tidak ditarik demi menghemat biaya cetak ulang sebesar USD 20 juta.
“Membiarkan pelajaran sejarah yang tidak akurat dalam silabus dapat menghambat pendidikan selama beberapa generasi,” kata Mustafa Nasr (27/9), bekas mahasiswa Universitas Kairo dan seorang aktivis.
“Menggunakan buku-buku lama dengan alasan tidak ada yang secara efektif mengubah kurikulum sekolah, adalah tidak mendidik,” imbuhnya.
“Jika ada yang pantas dibiayai sekarang ini di di negara ini, itu adalah memperbaharui buku-buku sekolah,” katanya.
Pakar sejarah Aim Desouqi telah mulai mengubah silabus sejarah untuk sekolah dasar dan menengah. Ia menghimbau agar sekolah tidak dulu mengajarkan apapun terkait gejolak politik yang sedang terjadi, kecuali masa itu telah berakhir. Desouqi yakin hal itu perlu dilakukan, untuk menghindari bias politik masuk kedalam bahan ajar.
Secara resmi menteri pendidikan meminta agar percetakan mencetak 153 juta buku untuk tahun ajaran baru dan menggunakan 30 juta eksemplar cetakan sebelumnya, setelah para penasehat mengatakan bahwa isi keduanya sesuai.*