Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Anggap Unkonstitusional Tanzania Belum Akui Rezim Baru Libya

Dija
Terakhir diupdate:
Dija
Dipublikasikan 10 November 2011 20:36
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Tanzania belum akan mengakui pemerintah baru Libya, yang sekarang dikuasai kelompok pemberontak, sebelum  Dewan Transisi Nasional memenuhi kondisi yang disyaratkan oleh Uni Afrika, lapor media resmi pemerintah, Kamis (10/11/2011).

Deputi menteri untuk urusan luar negeri dan kerjasama internasional, Mahadhi Juma Maalim, kepada parlemen di Dodoma mengatakan bahwa Tanzania tidak akan mengakui rezim apapun yang mendapat kekuasaan dengan cara-cara yang tidak konstitusional. Demikian dilaporkan media resmi Dailynews dikutip Xinhua.

Maalim mengambil Madagaskar sebagai contoh. Setelah Marc Ravalomana terpilih kembali pada tahun 2006, pemerintahnya dibubarkan pada Maret 2009, lewat sebuah kudeta oleh Andry Rajoelina yang didukung militer. Maalim mengatakan, hingga saat ini rezim Rajoelina yang berkuasa masih belum diakui oleh Tanzania.

Tanzania akan mengakui pemerintah baru Libya, jika rezim itu memenuhi tiga kriteria yang ditetapkan Uni Afrika, termasuk pembentukan pemerintahan transisi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan suku-suku di Libya.

Disamping itu, pemerintah transisi harus melakukan rekonsiliasi nasional untuk menyatukan seluruh bangsa Libya, sejalan dengan rencana masa depan Libya yang disarankan Uni Afrika, yang akan bermuara pada pelaksanaan pemilihan umum yang demokratis, damai dan bebas di Libya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Kriteria di  atas tidak khusus berlaku untuk Libya. Adalah kebiasaan sikap Tanzania untuk tidak mengakui rezim yang tidak dapat memenuhi aturan, hukum dan kebiasaan internasional. Itu adalah kriterai yang sama, yang diterapkan Tanzania untuk tidak mengakui rezim semacamnya di Mauritania, Guinea, Niger dan Madagaskar,” papar Maalim.

Namun, setelah kritera tersebut dipenuhi, Tanzania sekarang mengakui pemerintah Mauritania, Guinea dan Niger.

Mengenai pemberontakan yang dilakukan atas Muammar Qadhafi, Maalim kembali menegaskan penentangan Tanzania atas tindakan tersebut.

“Kami tidak pernah tinggal diam … Sikap Tanzania sangat jelas sejak perang itu dimulai. Kami tidak mendukung resolusi (pemberontakan) itu,” kata Maalim, menjawab pertanyaan dari Khalifa Khalifa, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Front Persatuan Rakyat.*

Redaktur: Dija
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mahkamah Jebloskan Moshe Katsav ke Bui
Tulisan selanjutnya Inggris Ilegalkan Muslims Against Crusades

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Terbaru

  • Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak
  • PM Andy Burnham Izinkan Pangkalan Militer Inggris Dipakai Amerika untuk Menyerang Iran
  • Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?