Hidayatullah.com–Setelah situs jejaring sosial Facebook mengaktifkan kembali akun Salman Rushdie, pengarang asal Inggris tersebut mengklaim kemenangan atas media sosial terpopuler sejagad itu.
Di Twitter ia berkomentar, “Menang!#Facebook telah menyerah! Saya Salman Rushdie lagi. Saya merasa lebih baik. Krisis identitas pada usia seperti saya bukanlah hal yang menyenangkan,” kutip BBC (15/11/2011).
Sengketa bermula bermula setelah pengarang ini meminta diperbolehkan menggunakan nama tengahnya pada bagian profilnya di situs jejaring sosial itu, yatu Salman, nama yang dikenal orang di seluruh dunia. Rushdie, 64, menceritakan keluh-kesahnya melalui serangkaian pesan Twitter. Dia mengatakan jejaring sosial Facebook bahkan mematikan akunnya akhir pekan lalu “dengan alasan mereka tidak percaya bahwa saya adalah saya”.
Facebook menerapkan kebijakan ketat mengenai nama asli para pengguna dan meminta Salman Rushdie mencantumkan nama Ahmed, nama pertama pengarang novel tersebut. Dia harus mengirim foto paspornya ke Facebook dan kemudian situs jejaring sosial itu mengaktifkan kembali akunnya tetapi dengan nama Ahmed Rushdie.
Sejumlah pengikut Rushdie menyebarkan pesannya dan tidak lama kemudian Facebook mengubah akunnya menjadi Salman Rushdie.
Rushdie bersembunyi selama bertahun-tahun dan mendapat perlindungan polisi setelah pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khameini mengeluarkan fatwa mati bagi
Rushdie pada 1989 terkait novelnya The Satanic Verses, yang menghina Tuhan dan Islam.*