Hidayatullah.com–Pernyataan salah seorang pengurus Partai Kebebasan dan Keadilan, yang mengatakan bahwa tetap akan melakukan unjuk rasa di Lapangan Tahrir, telah menimbulkan perdebatan di kalangan biro pengarah organsasi tersebut.
Sebagaimana dilansir Al Mishry Al Yaum, Selasa (22/11/2011), Mohammed Al Beltagy menyatakan akan tetap berpartisipasi dalam demonstrasi massa di Lapangan Tahrir sebagai bentuk solidaritas, meskipun sebelumnya partai bentukan Al Ikhwan, Partai Kebebasan dan Keadilan, telah mengumumkan tidak akan melakukan demonstrasi lagi.
Beltagy kabarnya berdebat dengan anggota biro Mahmoud Ghazlan tentang masalah itu. Ghazlan mengancam akan mundur.
Namun, tokoh Al Ikhwan Ahamd Abu Baraka menyangkal kabar itu. Dia mengatakan, Ghalan tidak mengeluarkan ancaman tersebut.
Sementara itu, sejumlah pemuda menanggapi penarikan Al Ikhwan dari aksi demonstrasi.
“Kelompok itu hanya mengutamakan kepentingannya sendiri,” tulis Taher Nagaty di akun Twitter-nya.
“Teman-teman dan saya akan tetap pergi ke Lapangan (Tahrir),” kata seorang pemuda anggota Al Ikhwan, Ali Khafagy.
“Para pemimpin kami tidak lagi diterima di sana,” imbuhnya.
Hari Senin (21/11/2011), Partai Kebebasan dan Keadilan mengeluarkan pernyataan resmi berisi pengumuman tidak akan ikut serta lagi dalam aksi unjuk rasa, yang kemungkinan akan menyebabkan lebih banyak konfrontasi.
Unjuk rasa besar di Lapangan Tahrir, yang pada hari Rabu ini memasuki hari kelima, menuntut pemerintah Dewan Militer Mesir untuk segera menyerahkan kekuasaan kepada sipil dan segera melaksanakan pemilu. Rakyat Mesir marah, karena Dewan Militer yang merebut kekuasaan dari Husni Mubarak itu belakangan ingin mengekalkan hegemoni mereka, dengan cara mengubah undang-undang.
Di Lapangan Tahrir, ribuan rakyat Mesir meneriakkan agar Muhammad Hussein Tantawi, bekas orang dekat Husni Mubarak dan ketua Dewan Militer, mundur. Aksi demonstrasi juga terjadi di beberapa kota besar lainnya, seperti Alexandria dan Suez.
Pemerintah membalas tuntutan rakyat itu dengan tembakan senjata. Sampai hari Senin kemarin, sebanyak 33 orang dilaporkan telah tewas dalam kurun waktu tiga hari sejak unjuk rasa terjadi.*