Hidayatullah.com—Liga Arab mengecam Perpustakaan Nasional Inggris yang mengizinkan Zionis Israel menampilkan dokumen asli Deklarasi Balfour untuk beberapa waktu di ‘Aula Kemerdekaan’ di Tel Aviv, lansir Egypt Independent Rabu (17/4/2013).
Liga Arab dalam pernyataannya menyebut keputusan itu sebagai pemakluman terhadap pembantaian berdarah yang terus terjadi dan penyangkalan hak-hak atas rakyat Palestina, yang memiliki 98 persen wilayah Palestina saat deklarasi itu dibuat.
Liga Arab menambahkan, rakyat Palestina hingga saat ini menanggung akibat dari deklarasi tersebut, yang merampas tanah negeri mereka. Masyarakat internasional dan juga pemerintah Inggris memiliki tanggungjawab etis, hukum dan politik untuk mengakui Palestina sebagai negara dengan batas wilayah sebelum 1967 dan Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibukotanya. Termasuk pula tanggungjawab atas implementasi resolusi-resolusi internasional terkait, termasuk hak orang Palestina untuk kembali ke tanah airnya.
Deklarasi Balfour ditandatangani pada 2 Nopember 1917 oleh menteri luar negeri Inggris ketika itu Arthur Balfour dengan Baron Rothschild seorang warga Yahudi Inggris, yang isinya berupa janji pembentukan sebuah negara khusus orang-orang Yahudi di tanah Palestina.
Ketika perjanjian itu ditandatangani, Palestina masih berada dibawah cengkaraman penjajahan Inggris.*