Hidayatullah.com—Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengkritik Amerika Serikat karena tidak menyerahkan 600 orang tahanan yang dikurung di penjara Bagram, meskipun penjara itu telah diserahterimakan dari AS ke pemerintah Kabul.
AS menyerahkan kontrol penjara dengan tingkat pengamanan tinggi itu pada tanggal 10 September lalu, namun enggan menyerahkan sebagian tahanan karena takut Afghanistan akan melepaskan mereka, lapor Associated Press seperti dikutip Russia Today (18/9/2012).
Sekitar 3.000 orang terduga anggota Taliban diserahkan kepada pemerintah Kabul, tetapi AS menolak menyerahkan 635 tahanan lainnya.
“Menunda penyerahan tahanan setelah 9 September merupakan pelanggaran serius atas kesepakatan yang telah ditandatangani antara Afghanistan dan Amerika Serikat,” kata Hamid Karzai dalam pernyataannya.
NATO berdalih, 600 orang itu ditangkap setelah kesepakatan awal penyerahan penjara Bagram telah ditandatangani, yang oleh karenanya mereka masih akan berada dalam tahanan AS untuk sementara waktu.
AS juga berdalih, 34 orang di antara ratusan tahanan yang belum diserahkan itu adalah orang-orang yang dianggap terlalu berbahaya.
Dalam pernyataannya Karzai mengatakan bahwa masalah penjara dan tahanannya bagi rakyat Afghanistan merupakan masalah yang menyinggung kedaulatan negara mereka, dan hal itu sudah berulangkali disebutkan dalam kesepakatan hubungan kerjasama strategis kedua negara.
Penjara Bagram dikenal sebagai penjara Guantanamo-nya Amerika di Afghanistan. Penjara yang berada di lingkungan pangkalan udara terbesar AS di luar negeri itu kerap menyiksa para tahanannya. Tahun 2002, dua orang tahanan pria dirantai di langit-langit dan dipukuli hingga tewas. Penyiksaan itu hanya setitik dari segunung kasus penyiksaan tahanan oleh tentara Amerika Serikat yang hingga kini tidak pernah diungkap dan diadili sebagaimana mestinya.*