Hidayatullah.com—Utusan khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah Lakhdar Brahimi mengatakan kepada para menteri luar negeri Uni Eropa agar mereka semua bertindak guna mengakhiri konflik bersenjata yang sedang terjadi di Suriah.
Berbicara usai pertemuan dengan para pejabat dan diplomat dari 27 negara, Brahimi mengatakan Suriah akan terseret dalam perang sipil berkepanjangan jika tidak diupayakan solusinya segera.
“Seperti yang sudah saya katakan berulang kali, krisis Suriah harus diselesaikan lewat kompromi politik, sebab situasinya hampir mirip –dan mungkin lebih parah– dari Somalia beberapa tahun lalu,” kata Brahimi kepada para wartawan di Brussels, kutip Euronews Senin (11/3/2013).
Ketika Brahimi sudah meninggalkan tempat pertemuan, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengatakan bahwa Uni Eropa perlu mengkaji ulang keputusannya memberlakukan embargo senjata atas oposisi Suriah.
“Pertanyaan mengenai embargo senjata ini yang muncul beberapa pekan lalu, telah mengemuka kembali dengan cepat, sebab kita tidak bisa membiarkan ketidakseimbangan ini (antara kedua belah pihak) yang menggiring pada pembantaian massal seluruh rakyat,” kata Fabius.
Sebagaimana diketahui, pemerintah rezim Bashar al-Assad memiliki semua persenjataan lengkap baik darat, udara maupun laut, sedangkan oposisi dan rakyat yang dibantai rezim hanya mengandalkan senjata rampasan dari tentara pemerintah.
Kepala urusan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton menekankan bahwa solusi apapun untuk mengakhiri konflik di Suriah harus berdasarkan pada solusi politik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sebanyak 70.000 orang telah tewas dalam konflik di Suriah sejak dua tahun lalu dan jutaan rakyat menjadi pengungsi di luar maupun dalam negeri.*