Hidayatullah.com–Kelompok pembela yang mewakili beberapa narapidana di Teluk Guantanamo mengatakan hari Kamis (21/03/2013) bahwa pelaku aksi mogok makan yang saat ini sedang berlangsung di kamp penjara kontroversial itu ternyata jauh lebih besar dari yang disebutkan otoritas militer Amerika Serikat.
Pada hari Rabu, Jenderal John Kelly mengatakan kepada satu Komite Kongres bahwa 24 tahanan Guantanamo sedang melakukan “mogok makan ringan” dengan hanya “makan sedikit” untuk memprotes penghinaan terhadap Al Quran oleh staf militer, dan juga memprotes penahanan mereka yang terus berlangsung tanpa proses pengadilan.
Tapi Omar Farah, bekerja pada Pusat Hak Konstitusi berbasis di New York terhadap isu-isu Guantanamo, mengatakan bahwa salah satu dari tujuh kliennya, Fahad Ghazy, narapidana asal Yaman, baru-baru ini mengatakan bahwa pemogokan melibatkan narapidana lebih banyak lagi. “Mereka (Pentagon) tidak mengakui skala dan jumlah pelaku aksi mogok makan,” kata Farah, seperti diberitakan laman The Guardian, Kamis (21/03/2013) malam.
Pada tanggal 14 Maret, Farah mengatakan, Ghazy telah mengatakan kepadanya melalui telepon bahwa semua narapidana di Kamp Enam Guantanamo, kecuali dua orang, melakukan aksi mogok makan, kira-kira jumlahnya hampir 130 orang.
Ghazy juga menambahkan, beberapa tahanan di Kamp Lima juga mogok makan. Ada sekitar 166 tahanan di Guantanamo, yang sebagian telah dipindahkan atau dibebaskan. Beberapa di antara mereka telah ditahan tanpa tuduhan selama 11 tahun.
Farah memperingatkan, jika aksi mogok makan terus berlanjut, beberapa narapidana bisa mati. “Kami mengkhawatirkan terhadap nasib beberapa orang. Jika aksi mereka terus berlanjut dengan tidak makan, akan dapat mengalami kerusakan fisik yang parah dan bisa mati,” katanya.
Kelly menolak adanya penghinaan terhadap Al Qu’ran, tetapi mengakui delapan tahanan telah turun berat badannya. Sekarang mereka dipaksa makan melalui selang. Dia bersikeras tidak ada krisis apa pun.
“(Mereka) biasa-biasa saja setiap hari, tenang, sepenuhnya kooperatif, untuk diberi makan melalui selang,” katanya. Ia menambahkan, para tahanan lain makan sendiri di sel mereka.
Para tahanan ini berada di penjara Guantanamo sejak dicanangkan “perang melawan teror”. Proses penahanan terhadap para tersangka teror ini telah membuat marah kelompok-kelompok kebebasan sipil di Amerika Serikat dan luar negeri, terutama terkait dengan status hukum tersangka yang penyelesaiannya sangat lambat atau bahkan tidak ada sama sekali.
Presiden Obama pernah berjanji untuk menutup kamp itu di tahun pertama jabatannya, namun usahanya itu terhalang oleh Kongres. Tampaknya saat ini janji itu sudah tak terdengar lagi. Awal tahun ini, kantor Departemen Luar Negeri bermaksud untuk menangani pemindahan tahanan dan penutupan Guantanamo.
Bahkan Kelley mengakui, semangat para narapidana dalam kondisi melorot. “Sebelumnya mereka memiliki optimisme besar Guantanamo akan ditutup. Semangat mereka jatuh, ternyata, janji presiden tidak terlaksana,” katanya.
Sementara itu, pemerhati hak-hak para tahanan juga mengkritik pengumuman baru terkait dihentikannya penerbangan sipil satu-satunya masuk ke basis itu. Awal pekan ini perusahaan Florida, IBC Travel, mengatakan, telah diperintahkan berhenti terbang memasuki ke wilayah itu mulai 1 Mei.
Itu berarti pengacara, wartawan, dan pekerja hak asasi manusia hanya akan bisa masuk dengan menggunakan penerbangan militer — sesuatu yang memerlukan izin dari Pentagon. “Ini tentu akan menjadikan jauh lebih sulit sampai ke sana pada saat kita semua membutuhkan peningkatan akses,” kata Farah.
Satu-satunya sidang pengadilan terhadap narapidana Teluk Guantanamo terhadap dugaan pelaku 11 September, dilakukan terhadap Khalid Syeikh Muhammad dan empat lainnya, yang dimulai tahun lalu. Sedang, anak tiri Usmah bin Ladin, Sulaiman Abu Ghaith, yang ditangkap awal bulan ini, akan dituntut di pengadilan pidana di New York atas tuduhan bersekongkol untuk membunuh orang Amerika.*