Hidayatullah.com—Presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat, Barack Obama, hari Kamis (27/6/2013) memulai kunjungan satu pekannya ke benua hitam Afrika, di mana dia menganjurkan pengakuan atas kaum homoseksual.
Saat Obama terbang menuju Senegal, pengadilan AS memutuskan bahwa pasangan wanita dan pria homoseksual memiliki hak yang sama sebagaimana pasangan normal lain.
“Itu merupakan kemenangan demokrasi,” kata Obama, dengan dalih semua orang sama kedudukannya dalam hukum.
Sesampainya di Senegal, negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan berbahasa resmi Prancis, Obama langsung mengkritik peraturan di negara itu yang menganggap homoseksual sebagai tindak kriminal.
Hubungan seks sesama jenis dilarang di 38 negara sub-Sahara Afrika.
“Saya ingin rakyat Afrika mendengar apa yang menjadi keayakinan saya,” kata Obama, yang merupakan putra dari ekonom Kenya, Barack Hussein Obama Sr.
“Pandangan dasar saya adalah, tak peduli ras, agama, gender, orientasi seksual, saat berhadapan dengan hukum … rakyat harus diperlakukan sama,” kata Obama.
“Tapi tentu saja ini tidak berarti kita semua homofobi,” imbuhnya.
“Senegal merupakan salah satu negara demokrasi di Afrika yang paling stabil, dan merupakan salah satu rekan terkuat yang kami miliki di kawasan ini,” kata Obama saat berdiri berdampingan dengan Presiden Senegal Macky Sall, lansir France24.
Kunjungan Obama ke Afrika itu antara lain bertujuan untuk memperpanjang African Growth and Opportunity Act (AGOA) yang akan berakhir pada tahun 2015. AGOA yang ditandatangani AS pada tahun 2000 di era Bill Clinton memangkas ongkos pabean bagi negara-negara Afrika yang membangun pasar bebas.*