Hidayatullah.com—Pekerjaan kesekretariatan umumnya dilakukan oleh para wanita, di mana fokus pekerjaan melulu pada tugas-tugas membantu atasannya. Tetapi sekarang ini, semakin banyak pria Inggris yang mendaftarkan diri untuk bekerja sebagai sekretaris atau asisten pribadi.
Fenomena baru ini disebabkan antara lain karena tingkat pengangguran yang tinggi, sementara bekerja sebagai sekretaris memberikan pendapatan yang layak, bisa mencapai 75.000 pound setahun atau sekitar 1,3 milyar rupiah.
David Morel, direktur eksekutif agen tenaga kerja Tiger Recruitment, mengatakan bahwa 200 orang dari 1.000 pelamar untuk pekerjaan sekretaris selama 12 bulan terakhir merupakan laki-laki. Sejak 2011 angkanya berlipatganda dan kebanyakan merupakan lulusan baru yang sangat ambisius.
Hal itu dibenarkan Susanna Tait, direktur pelaksana Tay Associates. Menurutnya, laki-laki yang melamar untuk menjadi sekretaris jumlahnya semakin banyak beberapa tahun terakhir. Pekerjaan yang menuntut kemahiran dalam mengatur jadwal, menjalin kontak dan berkomunikasi dengan banyak orang itu cocok bagi mereka yang ambisius.
Seperti Joshua Watson contohnya. Pemuda berusia 25 tahun ini sudah 18 bulan menjadi asisten eksekutif bagi seorang direktur senior wanita di perusahaan raksasa Barclays. Sebelumnya, Watson bekerja sebagai resepsionis dan asisten pribadi. Dia merasa tidak bekerja di bidang pekerjaan wanita. Baginya, pekerjaannya yang sekarang adalah tangga menuju jenjang karir yang lebih tinggi.
Menurut Morel, salah satu daya tarik yang menyebabkan pria mau bekerja sebagai sekretaris adalah gajinya yang tinggi. Tidak seperti dulu di mana banyak pria merasa gaji sekretaris tidak cukup, sekarang seorang asisten pribadi papan atas bisa mendapatkan gaji 35.000-75.000 pound, belum termasuk tunjangan.
Meskipun semakin banyak pria menjadi sekretaris, klien perusahaan tidak jarang terkejut mengetahui bahwa sekretaris yang menghubunginya adalah laki-laki.
Hal itu dialami Michael, 27, yang sudah tiga tahun menjadi asisten pribadi di sebuah perusahaan konsultan manajemen.
“Ketika saya menelepon klien, mereka biasanya sangat terkejut karena saya bukan perempuan,” kata Michael dikutip The Guardian (13/10/2013), yang mengatakan bahwa personal asisten di perusahaannya 10% di antaranya adalah pria.*