Hidayatullah.com—Kelompok WikiLeaks hari Selasa (31/12/2013) mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui dan tidak menyetujui sebuah delegasi, yang di dalamnya ada sejumlah anggota partainya, ke Suriah untuk menemui Bashar Al-Assad.
Ikut serta dalam delegasi itu –yang konon bertujuan untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Suriah menentang intervensi militer Barat itu– John Shipton, ayah Julian Assange yang menjabat sebagai pimpinan Partai WikiLeaks.
Menurut kicauan di akun Twitter presiden Suriah, rombongan asal Australia itu bertemua Assad pada 23 Desember 2013.
Kunjungan itu memicu kehebohan di Australia ketika kabarnya tersebar. Oposisi sayap kiri dari Partai Buruh menyebutnya sebagai tindakan “tidak biasa” dan “tidak bertanggungjawab”.
Chris Bowen tokoh terkemuka Partai Buruh mengatakan, rombongan partai politik itu harus menjelaskan maksud kunjungannya menemui Assad.
Partai WikiLeaks didirikan sebagai kendaraan politik Julian Assange di Australia. Tetapi partai itu berbeda dengan kelompok pembongkar segala rahasia yang tersohor itu.
Ketika ditanya tentang masalah tersebut, WikiLeaks sendiri menjaga jarak dari delegasi itu. Lewat akun Twitter resminya dikatakan bahwa menjembatani perundingan damai adalah hal yang baik, tetapi pihaknya tidak mengetahui dan tidak menyetujui kunjungan tersebut.
Selain Shipton, menurut koran The Australian, ikut pula dalam rombongani tu anggota parlemen nasional dari WikiLeaks Gail Malone, akademisi dari Universitas Sydney Tim Anderson dan aktivis pengungsi Jamal Daoud.
The Australian menulis, Shipton mengumumkan rencana untuk mendirikan kantor Partai WikiLeaks di Damaskus, sebagai tanda solidaritas kepada rakyat biasa Suriah.
Partai WikiLeaks berpendapat tudingan penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah untuk membunuh rakyatnya didasarkan pada laporan yang tidak dapat dipercaya. Dan dengan menggunakan pemakluman serupa, yang berdasarkan pada kebohongan dan rekayasa, Amerika Serikat melakukan invasi militer ke Iraq.
Sebagaimana diketahui, tim pemusnahan senjata kimia internasional hari Senin memulangkan kapal asal Skandinavia ke pelabuhannya, setelah memperkirakan bahwa tengat waktu untuk memusnahkan senjata kimia Suriah akhir tahun ini tidak dapat dipenuhi.*