Hidayatullah.com—Pemerintah China melakukan operasi besar-besaran terhadap praktik prostitusi di kota Dongguan, yang dikenal sebagai “ibu kota seks” untuk menggambarkan merajalelanya praktik perdagangan seks di tempat itu.
Lebih dari 6.000 polisi dikerahkan untuk merazia ratusan hotel, sauna dan panti karaoke di kota yang terletak di Provinsi Guangdong di selatan. Operasi itu dipicu oleh sebuah laporan oleh penyiar televisi negara China.
67 orang ditangkap,12 tempat ditutup usahanya, dan kepala kepolisian Dongguan yang sering disebut sebagai “ibu kota seks” China, dipecat, Jumat (14/2/2014), menyusul pemberitaan media soal maraknya prostitusi di kota itu.
“Polisi tahu lebih banyak dari orang lain tentang di mana prostitusi ada dan siapa yang terlibat, tetapi mereka tidak melakukan apa-apa,” kata laporan itu.
Yan Xiaokang, wakil walikota sekaligus kepala biro keamanan publik Dongguan, juga dicopot dari jabatannya setelah dianggap “melalaikan tugasnya” sehingga memicu industri seks ilegal yang mencoreng citra kota di wilayah selatan provinsi Guangdong itu.
“Kelalaian Yan dalam melakukan tugasnya memicu maraknya industri seks ilegal di Dongguan, yang mencoreng wajah kota ini baik secara nasional maupun internasional,” demikian pernyataan komite Parti Komunis provinsi Guangdong, seperti dikutip Xinhua.
Selain itu, tujuh pejabat tinggi kota itu juga dipecat terkait dengan kasus prostitusi tersebut.
Pemecatan Yan itu terjadi setelah stasiun televisi pemerintah China menyiarkan maraknya prostitusi di Dongguan pekan lalu. Siaran itu kemudian memicu operasi besar-besaran yang digelar kepolisian.
Semua langkah ini dilakukan untuk menerapkan hukum yang melarang adanya prostitusi di China.
Pembersihan pun dilakukan beberapa jam setelah rekaman CCTV tersebar di publik, yang menunjukkan puluhan wanita berbaris di panggung sebuah kafe dan manajer terlihat sedang membahas bayaran dengan pelanggan.
Seperti dimuat South China Morning Post, Selasa (11/02/2014), langkah ini merupakan seruan dari petinggi Partai Komunis China di Guangdong, Hu Chunhua, yang dikenal sebagai salah satu orang paling berpengaruh di China.
Tindakan pemerintah China mendapat penolakan keras dari warga sekitar. Bukan lantaran kehilangan lokalisasi, tapi atas dasar kemanusiaan.
Sebagaimana diketahui, prositusi adalah aktivitas ilegal berdasarkan hukum China. Meski demikian, perdagangan wanita masih marak, bahkan terorganisir dengan rapi. Sejumlah laporan media lokal menyebut jumlah pekerja seks komersial di China mencapai angka 4 juta sampai 6 juta.
Investigasi tim BBC ditemukan kelompok mafia dan tindak prostitusi di sejumlah lokasi, seperti tempat spa dan bar. Jaringan prostitusi China cukup banyak dan mengakar cukup lama.*