Hidayatullah.com—Ratusan orang dikhawatirkan mati tenggelam, setelah sebuah kapal ikan yang dipergunakan untuk mengangkut migran gelap terbalik di Laut Tengah.
Dilansir Euronews hari Ahad (19/4/2015), sedikitnya 24 orang sudah dipastikan meninggal sementara lebih dari 600 orang lainnya masih hilang.
Berapa sebenarnya jumlah penumpang di atas kapal ikan itu tidak diketahui, namun sejumlah laporan menyebut 700-900 orang.
Sekitar 40-50 anak-anak dan 200 wanita diperkirakan terjebak di sebuah ruangan tertutup di dalam kapal tersebut dan tidak dapat keluar.
Kapal terbalik sekitar 100 kilometer dari pantai Libya dan kurang lebih 200 kilometer dari pantai selatan Pulau Lampedusa milik Italia.
Perdana Menteri Italia Matteo Renzi meminta negara-negara Uni Eropa bertindak lebih banyak dalam menangani kasus tersebut.
“Prioritas kami, yang merupakan sebuah prioritas Politik dengan huruf besar ‘P’, adalah martabat kemanusiaan, begitu pula keamanan nasional, untuk menghentikan perdanganan manusia,” kata Renzi menegaskan dengan sangat. “Para pengendali-pengendali baru perbudakan manusia ini tidak boleh berpikir bahwa Eropa menganggap ini sebagai masalah kelas dua dibanding masalah-masalah lain yang ada dalam agenda kita.”
Italia, yang pulau-pulau terluarnya sering dijadikan batu loncatan para migran gelap dari Afrika untuk memasuki wilayah Eropa, berulang kali menyatakan negaranya tidak bisa sendirian mengatasi masalah tersebut.
Italia mendesak masyarakat dan lembaga internasional ambil bagian dalam mengatasi perdagangan manusia dari Afrika dan Timur Tengah yang berusaha menjangkau Eropa lewat laut.*