Hidayatullah.com—Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman hari Senin (4/5/2015) mengatakan tidak akan bergabung dengan koalisi pemerintah baru yang sedang dibentuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dengan alasan ada perselisihan dengan masalah legislasi.
Aksi angkat kaki yang dilakukan partai kanan-jauh pimpinan Lieberman kemungkinan besar akan memaksa Partai Likud, yang menjadi pemenang pemilu 17 Maret lalu, membentuk koalisi yang lebih ramping untuk mengamankan posisi mayoritas di parlemen Zionis yang beranggotakan 120 orang itu.
Netanyahu bisa saja meminta partai dari kelompok oposisi Zionist Union untuk bergabung dalam pemerintah “persatuan nasional,” meskipun kedua pihak sejauh ini beranggapan hal itu tidak mungkin dilakukan.
Berbicara kepada para wartawan, Lieberman mengatakan pemerintah Netanyahu telah menawarkan dua pos kabinet sebagai bagian dari pembiacaraan koalisi, tetapi hingga saat ini belum memuaskan, lapor Reuters.
“Ini pastinya bukan sebuah koalisi yang –sebagaimana saya sesalkan– mencerminkan posisi dari tempat berkumpulnya para nasionalis dan bukan yang kita inginkan, begitu bahasa halusnya,” kata Lieberman seraya menambahkan dia akan mengundurkan diri dari jabatan menteri luar negeri.
Netanyahu pekan lalu menandatangani kesepakatan pertama dengan mitra-mitra koalisinya, yaitu partai Yahudi ultra-Orthodoks United Torah Judaism (UTJ) dan partai tengah Kulanu, sehingga 46 kursi parlemen berhasil diamankan Netanyahu.
Likud masih sedang bernegosiasi dengan partai kanan-jauh HaBayit Ha Yehudi (Rumah Orang Yahudi) dan Partai Shas yang beraliran Yahudi ultra-Orthodoks.
Partainya Liberman, Yisrael Beitenu, mendapatkan dukungan dari orang-orang Israel yang bermigrasi dari bekas negara Uni Soviet dan kerap menentang keistimewaan-keistimewaan yang selama ini didapat oleh warga Yahudi ultra-Orthodoks.
Lieberman juga mengeluhkan legislasi yang mengukuhkan identitas Israel sebagai negara Yahudi tidak kunjung diwujudkan oleh pemerintah dan bahkan masalah itu dikesampingkan dalam negosiasi koalisi.
Shelly Yachimovich, seorang anggota parlemen dari Zionist Union, tidak memustahilkan partainya bergabung dengan koalisi Netanyahu, tetapi hal itu sepertinya tidak akan dilakukan.*