Hidayatulla.com–Arab Saudi mengusulkan gencatan senjata selama lima hari untuk memungkinkan badan bantuan menyalurkan bantuan ke warga sipil.
Gencatan ini ditempuh setelah serangan udara selama beberapa pekan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi dengan sasaran kelompok pemberontak Syiah Al-Hautsi (Syiah al-Houthi).
Usulan gencatan senjata itu diajukan Arab Saudi dengan syarat, pemberontak Al Hautsi (Al-Houthi) harus sepakat untuk meletakkan senjata.
Para pekerja sosial berulang kali memperingatkan bahwa warga sipil Yaman menderita karena semakim memburuknya kondisi di sana.
Hari Kamis, Menlu AS, John Kerry, melakukan pembicaraan dengan Raja Salman bin Abdulaziz.
Banyak penduduk yang menghadapi kekurangan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Usulan gencatan senjata diumumkan setelah pembicaraan antara Raja Salman bin Abdulaziz dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, yang sedang berkunjung ke Arab Saudi, Kamis (07/05/2015) dikutip BBC.
Sebelum pengumuman prakarsa ini, laporan-laporan menyebutkan terjadi rangkaian serangan udara Arab Saudi atas posisi Hautsi di kota Aden, Yaman selatan.
Arab Saudi menegaskan serangan udara ke Yaman ditujukan untuk mempertahankan pemerintahan Yaman yang sah dari ancaman pemberontak Syiah Al-Hautsi, yang dituduh mendapat dukungan dari Iran.
Pemerintah Teheran berulang kali membantah tuduhan tersebut.
Sebagaimana diketahui, Arab Saudi telah melakukan serangan militer terhadap Yaman sejak 26 Maret dalam operasi bertajuk Aashifatul Hazm (Badai Penghancur) guna melemahkan gerakan pemberontak Syiah Al Hautsi (Syiah Al-Houthi) yang menduduki kekuasaan pemerintahan sah Presiden Abdurrabbu Mansyur Hadi.*