Hidayatullah.com—Perdana Menteri Belgia menyarankan Eropa memiliki sebuah lembaga pusat intelijen guna memantapkan koordinasi operasi-operasi anti-teroris yang dilakukannya.
PM Charles Michel mengatakan pencarian para tersangka pelaku serangan di Paris menunjukkan kegagalan dinas-dinas rahasia Eropa dalam berbagi informasi.
Hal itu mengemuka di tengah-tengah kabar yang mengatakan bahwa Salah Abdeslam, warganegara Belgia tersangka pelaku serangan Paris, kemungkinan telah pergi meninggalkan negaranya menuju Suriah.
Dilansir Euronews Senin (30/11/2015), kepada stasiun radio Prancis RTL Michel berkata, “Kita perlu –dan ini pandangan pribadi saya– membentuk sesegera mungkin sebuah badan intelijen Eropa.”
Penyiar radio kemudian menanggapi Michel dengan nada tanya, “Sebuah CIA Eropa?”
Michel menjawab, “Sebuah CIA (Central Intelligence Agency) Eropa, ini istilah saya. Hal itu merupakan sebuah keperluan, menurut keyakinan saya. Dan saya pikir karena adanya zona Schengen ini, ada dua korelasi penting di dalamnya, yaitu perbatasan eksternal yang lebih baik bagi Uni Eropa, hal ini sekarang tidak menjadi masalah tetapi merupakan isu nyata. Dan kedua, saling berbagi data yang lebih baik perihal orang-orang yang hilir-mudik di dalam zona Schengen.”
Polisi mengatakan jumlah total pelaku serangan Paris kemungkinan lebih dari sepuluh. Zona Schengen memungkinkan penduduk di wilayah Uni Eropa melakukan perjalanan secara bebas lintas negara anggota tanpa memerlukan visa, sehingga mereka dapat berpindah dari satu negara ke negara lain dengan cepat, dan hal ini membuat aparat keamanan agak kesulitan melacak pelaku kejahatan.
Michel mengakui bahwa idenya itu tidak mendapat dukungan luas, meskipun Jumat lalu Komisioner Urusan Dalam Negeri Eropa Dimitris Avramopoulos juga menyerukan pembentukan badan intelijen pan-Eropa.
Sementara Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve mengaku agak ragu mengenai usulan itu.
Jerman secara terang-terangan menyatakan skeptimismenya perihal CIA Eropa.
“Kita seharusnya tidak membuang energi membahas badan intelijen Eropa,” kata Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere hari Jumat (27/11/2015), namun justru, “berkonsentrasi lebih meningkatkan lagi pertukaran informasi melalui lembaga-lembaga yang sudah ada.”*