Hidayatullah.com—Kejaksaan di London menuding seorang pria berencana melakukan serangan teroris terhadap orang-orang “berambut gelap”, termasuk Pangeran Charles, sebagai bagian dari fantasi ekstrimis, lapor Euronews Rabu (13/5/2015).
Mark Colborne, 37, asal Southampton merasa “dipinggirkan dan dikucilkan oleh masyarakat karena dia adalah seorang pria berkulit putih dan berambut pirang.” Demikian menurut Allison Darlow QC, yang juga mengatakan kepada Pengadilan Pidana Old Bailey bahwa Colborne telah menulis tentang “kebenciannya terhadap orang-orang yang bukan dari ras Arya serta rencananya untuk membunuh Pangeran Charles dengan senjata sniper.
Kasus itu berawal pada juni 2014, ketika ibu Colborne dan saudara tirinya melaporkan kepada polisi tentang temuan bahan kimia di kamar tidurnya, berikut catatan yang menunjukkan kebencia pria itu terhadap “orang-orang bodoh kulit hitam dan Kaukasia.”
Polisi kemudian mengetahui bahwa pria itu telah berselancar di dunia maya untuk mencari tahu tentang bagaimana cara membuat bahan peledak dan racun.
Dalam buku catatannya Colborne membandingkan diriya sendiri dengan Anders Behring Breivik, ekstrimis Kristen Norwegia yang merasa Eropa dan negaranya telah dikuasai orang-orang pendatang Muslim.
Dia menyatakan, “Saya mengharap retribusi besar, sebuah serangan teroris yang akan mengundang perhatian atas penderitaan kami –bukan hanya saya tetapi juga saudara-saudara saya di seluruh dunia.”
Colborne menuliskan secara rinci rencana pembunuhannya atas Pangeran Charles.
“Ambil senjata sniper berperedam suara, ambil posisi yang baik, tembakkan peluru ke arah kepala Pangeran Charles. Dia dilindungi tetapi tidak terlalu dilindungi. Saya akan mengorbankan hidup saya demi satu tembakan itu. Bunuh Charles dan William, dan Harry [akhirnya] akan menjadi raja.”
“Saya ingin mereka melihat perubahan saya dari minoritas berambut merah yang miskin yang terus menerus ditindas, berubah seluruhnya menjadi seorang teroris militer,” imbuh Colborne.
Jaksa Darlow mengatakan kepada pengadilan bahw Colborne adalah seorang agorafobia yang menderita depresi.
“Dia jelas-jelas memiliki pengalaman masa kanak-kanak yang sulit dan melihat dirinya sendiri sebagai orang yang terpinggirkan dan dikuclkan masyarakat kaena dia berkulit putih dan berambut pirang,” kata Darlow.
Colborne membantah dirinya sedang menyiapkan serangan teroris. Persidangan kasusnya masih berlanjut.*