Hidayatullah.com—Kepolisian London hari Senin (20/7/2015) dituduh melakukan pelanggaran HAM atas tiga wartawan yang bekerja untuk koran paling laris di Inggris dengan mengakses rekaman komunikasi telepon mereka guna mengetahui sumber berita yang menjatuhkan seorang menteri senior dari jabatannya, lapor Reuters.
Para detektif dari Kepolisian Metropolitan London menggunakan kewenangannya untuk melakukan operasi rahasia guna mencari tahu sumber kebocoran yang memberikan informasi kepada tabloid Sun pada tahun 2012, yang menyebutkan bahwa mantan menteri Andrew Mitchell bersumpah-serapah menghina para petugas di luar kantor Perdana Menteri David Cameron di Downing Street.
Ketiga wartawan itu mengajukan kasusnya ke Investigatory Powers Tribunal (IPT), lembaga yang menerima keluhan atau pengaduan dari masyarakat soal praktek menyimpang dari kerja rahasia yang dilakukan oleh pejabat atau pegawai pemerintah.
Kasus besar ini muncul di sela-sela perdebatan sengit di Inggris mengenai kewenangan aparat polisi dan intelijen dalam melakukan misi rahasianya memata-matai masyarakat.
Tabloid Sun melaporkan bahwa Mitchell, yang memegang titel Chief Whip atau orang yang bertanggungjawab menjaga disiplin di kalangan anggota parlemen dari Partai Konservatif (partainya PM Cameron), menyebut para petugas kepolisian di Downing Street sebagai “plebs” (orang-orang awam kalangan rendahan), karena melarang Mitchell mengayuh sepedanya melewati gerbang utama kawasan kantor pemerintah Inggris tersebut.
Mitchell membantah menggunakan istilah berkonotasi penghinaan itu, meskipun kemudian meminta maaf karena bersumpah-serapah.
Akibat perselisihan yang muncul setelahnya, Mitchell terpaksa meletakkan jabatan tahun lalu, setelah kalah dalam kasus penghinaan dan pencemaran nama baik lawan koran Inggris tersebut dan para petugas kepolisian terkait.
Empat petugas kepolisian, yang tidak hadir di lokasi ketika insiden Mitchell terjadi tetapi membocorkan masalah itu ke media, dipecat dengan tuduhan mengarang bukti dalam kasus tersebut. Satu di antaranya bahkan dibui.
Tim Negligan, detektif inspektur kepala yang memimpin penyelidikan kasus itu, mengatakan kepada IPT bahwa lembaganya mendapat tekanan untuk menyelesaikan kasus tersebut dan mencari tahu kemungkinan adanya konspirasi untuk menggulingkan Mitchell.
Negligan membela tindakan aparat kepolisian mengakses rekaman telepon (yang seharusnya rahasia) dengan alasan untuk menemukan kaitan yang hilang dalam kasus tersebut, yaitu sumber pembocor informasi.
Namun menurut Gavin Millar, pengacara ketiga wartawan Inggris dalam kasus itu, polisi seharusnya bisa menggunakan metode lain untuk menemukan sumber kebocoran informasi dan bukannya mengobok-obok rekaman telepon yang dijamin kerahasiaannya. Polisi dianggap telah melanggar hak fundamental jurnalis yang berhak melindungi sumber informasi berita yang ditulisnya.*