Hidayatullah.com–Presiden Turki Reccep Tayip Erdogan “menampar” negara-negara Barat dengan pidatonya yang berapi-api dalam pembukaan B20, forum bisnis negara-negara G20 di Ankara, Kamis (03/09/2015).
Pidato Erdogan disampaikan menyusul ditemukannya mayat balita pengungsi Suriah, Alan Ghalib di pantai Kota Bodrum, Turki, kemarin. Erdogan mengecam negara Uni Eropa, yang dinilainya telah mengubah Laut Tengah menjadi kuburan bagi pengungsi dan pendatang.
Dia juga menuding Eropa bertanggung jawab atas kematian setiap korban tewas di Laut Tengah.
“Negara Eropa mengubah Laut Tengah –tempat kelahiran peradaban kuno– menjadi kuburan bagi pendatang. Mereka bertanggung jawab terhadap kejahatan saat satu pengungsi kehilangan nyawa,” kata Erdogan dalam pidato di Ankara dikutip AFP.
Erdogan menilai Negara Barat tidak sensitif dalam menyikapi permasalahan yang terjadi di Timur Tengah, khususnya dalam konflik di Suriah dan Iraq. Hal ini, kata dia, berujung pada mengungsinya jutaan orang ke negara-negara tetangga, salah satunya Turki, menggunakan perahu seadanya mengarungi Laut Mediterania.
“Mediterania yang merupakan pusat peradaban kuno kini menjadi kuburan para imigran. Barat harus bertanggung jawab atas semua kematian ini. Kemarin bocah berusia tiga tahun ditemukan meninggal dan terdampar, kemanusiaan harus bertanggung jawab,” kata Erdogan dikutip CNN Indonesia.
Dia mengatakan bahwa permasalahan ini adalah buah dari gagalnya sistem keamanan dunia, dalam hal ini Dewan Keamanan PBB yang selalu gagal menelurkan resolusi untuk mengecam rezim Bashar al-Assad yang membantai rakyat Suriah.
Resolusi Suriah selalu terganjal di DK PBB setelah salah satu dari lima anggota tetapnya melancarkan veto.
Struktur lima anggota tetap dalam DK PBB telah lama dikritik oleh berbagai negara karena tidak lagi mewakili situasi geopolitik sekarang ini. Sistem lima negara anggota tetap DK PBB yang terdiri dari Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris dan Perancis tercipta pasca Perang Dunia II.
Reformasi DK PBB telah lama didengungkan, termasuk oleh Indonesia, namun masih sulit dilakukan dengan dominasi negara Barat di PBB yang sangat kental. Erdogan menegaskan bahwa nasib dunia tidak bisa lagi tergantung dari lima negara ini.
“Dunia lebih besar dari hanya lima negara. Takdir 200 negara tidak bisa ada di tangan lima negara ini. Kita harus mengangkat masalah ini. Media selalu mengkritik kami. Saya tidak peduli. Saya akan tetap membela kebenaran,” tegas dia yang disambut tepuk tangan penonton.
Erdogan juga mengkritik negara-negara yang menolak menerima imigran Suriah yang lari dari pembunuhan dan kematian akibat kelaparan. Menurut dia, kemanusiaan telah tenggelam bersama dengan karamnya kapal para pengungsi yang ditolak negara-negara Eropa.
Negaranya, dia menegaskan, tidak akan pernah menolak para pengungsi yang datang. Saat ini ada dua juta pengungsi Suriah yang ditampung di Turki.
“Kami tidak pernah mengeluh dan tidak akan pernah mengeluh. Kami telah mengeluarkan bantuan sebesar US$6,5 miliar untuk melakukan yang terbaik sampai mereka bisa hidup dengan sejahtera,” imbuh dia.
“Negara Eropa, yang seringkali mematok kriteria hak asasi manusia dasar dan kebebasan, mengkhianati prinsip mereka sendiri,” kata Erdogan.
“Kami berpendapat bahwa tidak adil jika kami harus menanggung semua persoalan yang dunia hadapi,” kata Erdogan.
Erdogan menyampaikan komentar tersebut setelah munculnya sebuah gambar mayat anak Suriah berusia tiga tahun yang terdampar di pantai Turki. Sebelumnya keluarga anak itu hendak menyeberang ke Yunani namun mengurungkan niat karena kebijakan keras di Eropa.
“Mayat anak tiga tahun yang mati di kapal yang membawa pengungsi di Laut Tengah terdampar di pantai kami,” kata Erdogan. [Baca: Kisah Abdullah Kurdi Asal Suriah yang Putranya Ditemukan di Pantai Turki]
“Lalu apakah kemanusiaan kita tidak mempedulikan kematian seorang anak tiga tahun di pantai kami?” kata Erdogan mempertanyakan.
Pemerintah Turki pada pekan ini menyatakan menyelamatkan lebih dari 42.000 pendatang di Laut Aegea selama lima bulan pertama tahun 2015. Sementara sepanjang satu pekan terakhir, mereka juga telah menyelamatkan sekitar 2.160 orang.
Turki saat ini menampung 1,8 juta pengungsi Suriah, yang berlindung dari perang. Negara itu juga berulang kali menuding Eropa tidak bertanggung jawab karena tidak mau berbagi beban dalam menampung pelarian.*