Hidayatullah.com — Tentara Libya pada Rabu (14/04/2021) mengatakan dua pesawat Mesir yang mendarat di Bandara Internasional Sabha selatan Libya telah menyelundupkan senjata dan amunisi kepada pemberontak Khalifa Haftar, lapor Anadolu Agency.
Menurut pernyataan Abdelhadi Drah, juru bicara Ruang Operasi Sirte-Jufra Angkatan Darat Libya, senjata-senjata itu disembunyikan di dalam kumpulan obat-obatan.
Drah berkata: “Dua dari pesawat C-130 Mesir mendarat di Bandara Sabha dengan dalih membawa obat-obatan tetapi membawa senjata dan amunisi.”
Ia menambahkan, bungkusan itu berisi sejumlah kecil obat-obatan, sedangkan sebagian besar pengirimannya berupa senjata.
Pada Selasa pagi, Kementerian Kesehatan Libya dari pemerintah persatuan nasional mengumumkan dalam sebuah pernyataan kedatangan dua pengiriman obat-obatan ke Libya melalui Bandara Internasional Sabha.
TV pro-pemberontak Al Hadath melaporkan pada hari Selasa bahwa pengiriman obat-obatan tiba di Sabha melalui koordinasi antara Haftar dan Presiden Mesir Adel-Fattah al-Sisi.
Libya telah dilanda perang saudara sejak penggulingan almarhum penguasa Muammar Gaddafi pada 2011.
Perang diperparah ketika pemberontak Haftar, yang didukung peralatan dan senjata oleh beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab, Mesir, Rusia, dan Prancis, melakukan serangan militer untuk menggulingkan pemerintah yang berbasis di Tripoli yang diakui secara internasional untuk menguasai negara itu.
Pada 23 Oktober 2020, gencatan senjata dicapai di bawah naungan PBB, yang telah dilanggar milisi Haftar dari waktu ke waktu.
Pada 5 Februari, kelompok politik saingan Libya setuju selama pembicaraan yang dimediasi oleh PBB di Jenewa untuk membentuk pemerintahan sementara untuk memimpin negara itu ke pemilihan Desember ini. Delegasi Libya memilih Mohammad Menfi untuk memimpin tiga anggota Dewan Presiden dan Abdul Hamid Dbeibeh sebagai perdana menteri baru.*