Hidayatullah.com—Sebuah pusat perbelanjaan di Swedia memaksa kelompok pemuda yang disuruhnya menggambar mural (lukisan di dinding) untuk mengubah gambar wanita berjilbab dengan wanita biasa yang tidak bertudung kepala.
“Sangat mengejutkan, hampir saya tidak mempercayainya kalau itu benar-benr terjadi,” keluh Pia Jonsson, yang suaminya Magnus Heberlein aktif di sebuah kelompok anti-rasisme lokal, di laman Facebook-nya. “Pesan macam apa yang kalian ingin sampaikan kepada para pelanggan? Bagaimana bisa kalian jatuh ke tangan rasis dengan cara menjijikan seperti itu.”
Menurut Jonsson, pihak pengelola pusat perbelanjaan Burlovs yang terletak tidak jauh dari kota Malmo, menyuruh kelompok pemuda UNITY Burlov dan Ungdomsgruppen Burlov untuk membuat mural yang menggambarkan keanekaragaman daerah setempat.
Namun, ketika sosok wanita berhijab itu digambar, kelompok pemuda itu dipanggil dalam sebuah rapat dan diberitahu bahwa gambar wanita berkerudung itu tidak dapat diterima. Alasan pihak manajemen, pusat perbelanjaan itu adalah tempat sekuler dan tidak ingin menunjukkan simbol-simbol agama apapun.
“Para pemuda itu marah dan sedih. Mereka dibesarkan di daerah ini, dan bangga dengan keberagamannya dan ingin menunjukkannya sebagai sesuatu yang indah. Namun, justru dicampakkan,” imbuh Jonsson seperti dikutip The Local..
Grosvenor Fund Management yang berbasis di London, pemilik dari pusat perbelanjaan itu, hari Sabtu (28/11/2015) mengeluarkan pernyataan pers berisi permintaan maaf atas apa yang terjadi.
“Kami meminta maaf mural wanita berhijab dianggap sebagai simbol keagamaan, yang karenanya kemudian diubah,” tulis Grosvenor. “Diubahnya gambar tersebut disayangkan.”
“Bagi kami adalah penting untuk menyambut seluruh pengunjung tanpa mempedulikan apa agama, etnis atau jenis kelamin mereka,” imbuh perusahaan asal Inggris tersebut.*