Hidayatullah.com – Pengajar tetap di Masjid Nabawi dan Guru Besar di Universitas Islam Madinah (UIM) Syeikh Prof. Dr. Anis Ahmad Thohir al-Indunisi mengingatkan umat bahwa Islam adalah agama persatuan dan persaudaraan, maka jangan ada perpecahan di tubuh umat Islam.
Hal tersebut disampaikan Syeikh Anis Thohir saat bertatap muka dengan keluarga besar Persatuan Pelajar dan Mahasiwa Indonesia (PPMI) cabang Madinah, Sabtu (20/2/2016) di kampus UIM.
“Islam agama Wahdah, Ulfah dan Ukhuwah, jangan berpecah belah dalam agama ini. Kita semua adalah saudara dan dengan persaudaraan kita menjadi kuat, tapi setan jin dan setan manusia menginginkan perpecahan di antara kita,” kata Syeikh Anis membuka nasehatnya.
Dalam acara pergantian ketua PPMI Madinah tersebut, Syeikh Anis juga memberi kunci persatuan umat yang dibawa oleh Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam– berupa dakwah Tauhid yang murni.
“Adapun kunci sukses Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam– dalam berdakwah dan mempersatukan umat ada pada satu kata, ‘Tauhid’, men-tauhidkan Allah dalam Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat, men-tauhidkan Rasulullah dalam Ittiba’ mengikuti sunnah-sunnah beliau. Inilah kunci sukses Nabi dalam mempersatukan umat, maka dengan Tauhid ini pula kita berusaha mempersatukannya kembali,” terangnya.
Syeikh Anis juga mengingatkan mahasiswa Indonesia agar tidak mencela dan menyalahkan sesama saudara seiman. Menurutnya, Ahlussunnah wal Jamaah sekarang diperhadapkan dengan banyak musuh dari dalam dan luar, suara persatuan di atas Tauhid harus terus diutamakan.
“Jangan mudah menyalahkan, mengkafirkan dan menjauhkan umat dari Islam yang penuh rahmat. Bila ada saudara kita yang keliru, mari beri nasehat dengan cara yang baik, dakwah inilah yang diharapkan bila kalian kembali ke Indonesia nanti. Di zaman fitnah ini musuh kita terus menyerang dari dalam dan luar, persatuan Tauhid inilah benteng kita,” pungkasnya.
Guru Besar ilmu Hadits kelahiran Makkah 59 tahun silam ini menyelesaikan pendidikan formalnya di fakultas Hadits UIM, beliau juga murid dari Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Sholeh al-Utsaimin dan Syeikh Abdul Muhsin al-Abbad. Ayah Syeikh Anis Thohir berasal dari Lampung dan ibunya dari Semarang, Jawa Tengah.*