Hidayatullah.com—Amerika Serikat (AS) hari Senin berusaha untuk menyalahkan Harakah al Muqawammah Islamiyah (Gerakan Perlawanan Islam/Hamas) atas gugurnya 55 orang Palestina yang dibunuh oleh Israel selama demonstrasi anti-pendudukan di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza.
“Hamas bertanggung jawab atas kematian tragis ini,” kata juru bicara Gedung Putih, Raj Shah, kepada wartawan, sebagaimana dilansir Anadolu Agency.
“Eksploitas mereka yang agak sinis terhadap situasi adalah apa yang menyebabkan kematian ini dan kami ingin mereka berhenti.”
Baca: [Update] Zionis Bunuh 58 Orang, Lukai 2400 Warga Palestina di Perbatasan
Ditanya apakah Israel menanggung beban untuk menahan diri, Shah menjawab: “Tidak.” Dia tidak mengatakan apapun tentang tanggung jawab Israel atas pembunuhan para demonstran.
Ribuan warga Palestina berkumpul di perbatasan timur Jalur Gaza sejak Senin pagi untuk mengambil bagian dalam protes yang ditujukan untuk memperingati berdirinya Israel, dan memprotes relokasi Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem (Baitul Maqdis).
Sejak demonstrasi perbatasan dimulai pada 30 Maret, lebih dari 90 demonstran Palestina telah menjadi syuhada oleh tembakan Israel lintas-perbatasan, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Unjuk rasa akan mencapai puncaknya pada hari Selasa, 15 Mei 2018, peringatan 70 tahun pendirian ‘Negara palsu’ Israel – sebuah acara yang oleh orang Palestina disebut sebagai “Nakba” (Petaka).
Pekan lalu, pemerintah Israel mengatakan protes perbatasan yang sedang berlangsung merupakan “keadaan perang” di mana hukum humaniter internasional tidak berlaku.
Baca: Inilah 32 Negara yang Hadiri Pembukaan Kedutaan AS di Al Quds
Di tengah jumlah korban yang bertambah, PBB mendesak pasukan keamanan Israel untuk “menahan diri maksimal dalam penggunaan api hidup”.
“Sekretaris Jenderal sangat khawatir dengan eskalasi kekerasan yang tajam di wilayah Palestina yang diduduki dan tingginya jumlah warga Palestina yang tewas dan terluka dalam protes Gaza,” kata juru bicara Farhan Haq dalam sebuah pernyataan, mengacu pada Antonio Guterres.
“Dengan ketegangan yang tinggi dan lebih banyak demonstrasi yang diperkirakan dalam beberapa hari mendatang, sangat penting bahwa setiap orang menunjukkan pengendalian tertinggi untuk menghindari kematian lebih lanjut, termasuk memastikan bahwa semua warga sipil dan khususnya anak-anak tidak berada dalam bahaya,” Haq menambahkan.*/Sirajuddin Muslim