Hidayatullah.com—Angkatan Bersenjata Amerika Serikat akan melarang sama sekali personelnya yang ditempatkan di Jepang dari mengenggak minuman keras baik di dalam maupun di luar pangkalan, tidak boleh meninggalkan pangkalan di darat kecuali untuk pulang-pergi dan keperluan semestinya seperti menjemput anak atau berbelanja kebutuhan rumah tangga.
US Navy mengatakan peraturan ketat itu akan diberlakukan sampai seluruh personel telah menjalani pelatihan khusus. Larangan mengkonsumsi minuman beralkohol diberlakukan sampai komandan mereka merasa seluruh anak buahnya mengerti dampak miras terhadap perilaku.
“Keputusan ini bukan main-main,” kata Laksda Matthew Carter, komandan pasukan angkatan laut AS di Jepang, dalam pernyataannya seperti dikutip BBC Senin (6/6/2016).
“Selama berpuluh tahun kami telah menikmati hubungan kuat dengan orang-orang di Jepang. Adalah keharusan setiap pelaut mengerti bagaimana tindakan kami dapat mempengaruhi hubungan tersebut, dan aliansi AS-Jepang secara keseluruhan,” kata Carter.
Kebijakan keras itu diberlakukan menyusul kecelakaan 3 mobil hari Sabtu lalu di Okinawa, yang mengakibatkan 2 orang terluka.
Kecelakaan melibatkan Aimee Mejia, 21, seorang pelaut AS berpangkat petty officer (setara kopral sampai sersan) yang mengemudikan kendaraan di bawah pengaruh minuman beralkohol.
Polisi mengatakan Mejia mengendarai mobilnya dari arah yang salah dan menabrak dua mobil lain. Seorang wanita penduduk setempat mengalami retak tulang dada akibat kecelakaan itu.
Kadar alkohol dalam darah Meija 6 kali lebih tinggi dari yang diperbolehkan, lapor lembaga penyiaran Jepang NHK.
Di Okinawa terdapat pangkalan militer Amerika Serikat berkekuatan 50.000 personel. Penduduk Jepang beberapa tahun terakhir sering memprotes keberadaan pangkalan itu, menyusul seringnya personel Amerika terlibat tindak kriminal atau perbuatan tidak menyenangkan di sana.
Baru bulan lalu seorang personel militer sipil Amerika ditangkap, karena diduga membuang mayat seorang wanita lokal.
PM Shinzo Abe mengungkapkan kemarahannya atas kejadian itu, dan mengangkat isu tersebut dalam pertemuan dengan Presiden Barack Obama di forum G7 di Jepang.*