Hidayatullah.com—Penyelundup manusia di Niger meninggalkan begitu saja 34 pengungsi –termasuk 20 anak-anak– di Gurun Sahara di mana mereka mati kehausan.
Pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Niger hari Rabu (15/6/2016) mengatakan bahwa orang-orang itu berusaha menyeberangi gurun menuju negara tetangga Aljazair antara tanggal 6 Juni dan 12 Juni, lansir Aljazeera.
“Tiga puluh empat orang, termasuk 5 pria, 9 wanita dan 20 anak-anak, meninggal saat berusaha menyeberangi gurun,” kata pernyataan itu.
“[Mereka] ditinggal begitu saja oleh para penyelundup manusia.”
Menurut kementerian, sejauh ini hanya dua mayat yang berhasil diidentifikasi, yaitu seorang pria dan seorang wanita berusia 26 tahun, keduanya asal Niger.
Belum diketahui apa kewarganegaraan korban lainnya.
Suhu udara di daerah itu dapat mencapai 42 derajat Celcius, dengan badai gurun berkekuatan besar yang bertiup mencabik-cabik gurun.
Oleh karena kondisi alam yang sangat ekstrim, hanya sebagian kecil jasad dari orang-orang yang berusaha menyeberangi gurun itu berhasil ditemukan.
Beberapa tahun terakhir, ribuan migran dan pengungsi tiba di Aljazair, kebanyakan berasal dari negara tetangga Mali dan Niger.
“Mereka kemungkinan mati kehausan, seperti yang sering terjadi. Mereka ditemukan di dekat Assamaka,” kata sumber keamanan kepada AFP, menunjuk sebuah pos perbatasan antara Niger dan Aljazair.
Ketika Muammar Qadhafi masih berkuasa di Libya, yang kala itu termasuk paling makmur di Afrika, biasa menjadi negara penampung mayoritas pengungsi dari sub-Sahara Afrika. Namun, setelah Qadhafi dibunuh dan Libya kacau-balau, Aljazair menjadi negara tujuan para pengungsi di kawasan itu.
Tidak sedikit pengungsi dan migran yang sudah mencapai Aljazair kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Eropa.
International Organisation for Migration (IOM) memperkirakan tahun lalu 120.000 orang menyeberang melalui Agadez di Niger, dan tahun lalu 37 pengungsi meninggal di gurun.*