Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Soal Perang, Tentara Rusia Menangis, Komandan Ukraina Bingung

Ama Farah
Terakhir diupdate: 4 Maret 2014 23:58 11:58 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 4 Maret 2014 22:57
Bagikan
Semenangjung Krimea sudah dikuasai oleh pasukan Rusia dan pasukan milisi lokal pro-Moskow.
Bagikan

Hidayatullah.com—Menyusul kerusuhan dan ketegangan politik di Ukraina, bekas negara pecahan Uni Sovyet itu saat ini bersitegang dengan Rusia terkait krisis di Semenanjung Krimea. Banyak orang umum yang tidak mengerti apa penyebab sebenarnya sehingga Rusia dan Ukraina yang dulu begitu dekat justru sekarang diambang peperangan. Ternyata kebingungan itu juga dirasakan oleh tentara Rusia dan Ukraina.

Dilansir AFP (4/3/2014), seorang prajurit Rusia tidak dapat menyembunyikan air matanya sambil menyandarkan diri ke sebuah pohon, hanya beberapa meter dari pangkalan militer Ukraina di Krimea yang dikepung oleh kesatuannya.

“Anda harus memakluminya, dia malu akan apa yang terjadi di sini,” kata Gulya, ibu dari seorang tentara Ukraina yang ditempatkan di dalam pangkalan militer Bakhchisaray itu.

“Sangat disayangkan kami saling berperang satu sama lain,” imbuh wanita paruh baya itu, yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai “warga negara Ukraina.”

Beralih ke teman tentara Rusia yang menangis itu wanita tersebut berkata, “Kami tidak melawan kalian, jangan takut.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Ketika ditanya oleh wartawan AFP apakah dia orang Rusia, prajurit bermata biru yang menangis itu mengangguk malu-malu.

Wilayah Ukraina di Semenanjung Krimea yang berada di Laut Hitam itu sudah sepenuhnya dibawah kendali pasukan Rusia dan pasukan milisi lokal pro-Moskow.

Namun di Bakhchisaray, sekitar 30 kilometer arah barat daya ibukota Krimea, Simferopol, suasananya lebih santai, seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan nyaris tenang damai.

Dua puluhan tentara berpakaian seragam kamuflase sambil memanggul Kalasnikov sesekali terlihat mondar-mandir di jalan. Salah satunya bahkan tampak bermain-main dengan seekor anjing.

Bagi para anggota militer Ukraina di dalam pangkalan, tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang berseragam loreng-loreng itu adalah tentara Rusia, meskipun tidak ada emblem yang menunjukkan asal kesatuan dan negara mereka.

“Anda perhatikan saja seragam mereka,” kata deputi komandan pangkalan militer itu Volodymyr Dokuchayev.

Letkol Sergey Stechenko membenarkan bahwa salah satu dari tentara itu “memperkenalkan dirinya sebagai seorang kapten dari Federasi Rusia,” setelah para pria tak dikenal tersebut mengambil posisi di sekeliling pangkalan militer itu.

Ukraina menuding Rusia hari Senin menerjunkan pasukannya lebih banyak ke Krimea, sebuah wilayah Ukraina yang banyak dihuni oleh orang-orang berbahasa Rusia dan merupakan lokasi strategis bagi para tsar (raja) dan angkatan laut Kremlin sejak abad ke-18.

Presiden Rusia Vladimir Putin hari Sabtu mendapatkan restu dari parlemen untuk mengirimkan pasukannya ke Krimea. Alasan pengerahan pasukan oleh Kremlin ke wilayah tetangganya itu adalah untuk melindungi orang-orang Rusia dan sekutunya di Ukraina yang sedang dilanda kekacauan.

“Kami tidak bisa melakukan ini, kami telah bersumpah dan berjanji setia kepada Ukraina,” kata Stechenko, yang mengenakan topi bulu chapka (topi musim dingin, red) meskipun matahari sedang sangat terik.

“Kami harus tetap loyal kepada rakyat Ukraina, ini negeri kami.”

“Mereka tidak semuanya agresif … Mereka tidak ingin menembak kami, kami tidak ingin menembak mereka,” katanya soal sejawatnya tentara Rusia.

Tetapi Stechenko mengakui, “Jika mereka yang memulai menembak, kami akan balas menembak.”

Meskipun dia bertugas di pangkalan militer, Stechenko kelihatan bingung melihat mengapa situasi begitu cepat memanas setelah presiden Ukraina yang dibenci rakyat dan dituntut mundur, Viktor Yanukovych, melarikan diri ke Rusia.

“Secara pribadi, saya tidak tahu,” kata komandan pangkalan itu tentang krisis yang terjadi antara Ukraina dan Rusia.

“Kami berharap ini akan diselesaikan dengan cara damai,” ujarnya.

Bakhchisaray merupakan satu dari beberapa pangkalan militer di Semenanjung Krimea yang dikepung pasukan pro-Rusia sejak akhir pekan kemarin.

Keadaan kelihatan masih normal di beberapa tempat meskipun Rusia-Ukraina bersitegang. Warga setempat yang penasaran ingin tahu terlihat mendekati pangkalan militer Bakhchisaray hari Ahad kemarin. Sebagian dari mereka bahkan mengambil gambar dan berpose dengan para pria yang berseragam tentara.

Di atas, para pemimpin Rusia dan Ukraina boleh saja saling bersitegang dan siap bertempur. Tapi kami yang di bawah ingin keadaan tetap damai. Mungkin begitu pikir mereka.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Majelis Syuro Saudi sebut Hizbullah Pemasok Narkotika ke Tanah Arab
Tulisan selanjutnya Tak Beramal Nganggur, Beramal Ujub, Mana yang Utama?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Berita
5 Juni 2026 06:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?