Hidayatullah.com—Setidaknya enam orang tewas tewas dalam pertempuran antara kelompok pemberontak saingannya di akibat bentrok dua kelompok bersenjata Republik Afrika Tengah (CAR), kata misi penjaga perdamaian PBB di negara itu kepada BBC.
Pasukan penjaga perdamaian PBB mengatakan mereka telah ikut campur tangan menghentikan kekerasan lebih lanjut di Kota Kaga Bandoro, dekat tempat pembunuhan terjadi.
Sebelumnya, juru bicara kepresidenan Albert Mokpeme menyebut jumlah tewas 26 orang, namun hari Senin dikoreksi menjadi enam orang sesuai dengan hitungan PBB.
“MINUSCA (Misi PBB) hanya bisa memastikan pada tahap ini jumlah tewas enam orang,” kata juru bicaranya Herve Verhoosel seraya menambahkan bahwa bentrokan itu tengah diselidiki.
Herve Verhoosel juga mengatakan, MINUSCA menyesalkan hilangnya nyawa manusia dan mereka yang terluka.
Bentrok yang terjadi Jumat pekan lalu antara kelompok muslim Seleka melawan milisi anti-Balaka dari kelompok Kristen di dua kota di utara negara itu, yakni Ndomete dan Kaga Bandoro ini merupakan pertumpahan darah terburuk dalam beberapa bulan terakhir di sebuah negara miskin yang bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kekacauan politik.
Albert Mokpeme mengatakan peristiwa ini bertempat di desa Ndomete, tidak jauh dari kota dari Kaga-Bandoro, sekitar 350 km (220 miles) utara ibukota Bangui.
Anti-Balaka dibentuk pada 2013 sebagai jawaban atas penggulingan Presiden Francois Bozize oleh Seleka.
Konflik antara kelompok Seleka yang Muslim terhadap anggota milisi saingannya anti-Balaka yang Kristen sejak hari Jumat di Ndomete sebelum telah menyebar ke Kaga-Bandoro.
Kelompok teroris Kristen anti-Balaka makin merajalela pada September 2013, setelah kelompok Islam, Selaka, dilucuti oleh pasukan penjaga perdamaian dari Prancis. Sejak itu pembantaian dan genosida terhadap Muslim di Republik Afrika Tengah mengganas.
Tahun 2014, kelompok Anti Balaka sempat membunuh sedikitnya 70 orang Muslim di daerah pelosok di barat daya Republik Afrika Tengah, dengan menyuruh mereka berbaring di tanah talu ditembak satu persatu, kata para saksi Senin (24/2/2014) dilansir Associated Press.
Pemimpin komunitas Muslim di CAR, kepada Anadolu Agency pada bulan Februari 2014 menceritakan, sejak pecah konflik, setidaknya 67 masjid telah dihancurkan di seluruh negara yang dilanda perselisihan ini.
“Mereka menjarah seng masjid, kusen dan jendela,” Sherif Wadi, seorang saksi mata Muslim menggambarkan serangan sebagaimana laporan Amnesty Internasional.
Milisi Anti Balaka sedang menghancurkan sebuah masjid di Kota Bangui
Seperti diketahui, Republik Afrika Tengah, dikenal memiliki cadangan uranium, emas dan berlian.
Namun Negara ini menderita krisis terbesar dalam setengah abad kemerdekaan khususnya sejak 2013 dimana terus jatuh dalam kubangan bentrok antarkomunal dan antar-agama yang semakin kentara sejak Presiden Faustin-Archange Touadera disumpah Maret tahun ini menyusul Pemilu yang luas dianggap sebagai jalan ke arah rekonsiliasi.*