Hidayatullah.com—Anggota kelompok teroris Kristen bersenjata membunuh sedikitnya 70 orang Muslim di daerah pelosok di barat daya Republik Afrika Tengah, dengan menyuruh mereka berbaring di tanah talu ditembak satu persatu, kata para saksi Senin (24/2/2014) dilansir Associated Press.
Kelompok teroris Kristen bersenjata yang dikenal dengan sebutan “anti-Balaka”, membantai warga Muslim di desa Guen awal bulan ini, kata seorang pendeta Katolik Rigobert Dolongo yang ikut mengubur mayat-mayat korban kepada AP. Sebanyak 43 orang lainnya dibantai pada hari kedua.
Ibrahim Aboubakar, 22, menceritakan bahwa Anti-Balaka menyerbu Guen dan membunuh dua saudara laki-lakinya, setelah para teroris Kristen itu mendengar keduanya berbicara dalam bahasa Arab.
“Kemudian pada hari itu mereka menangkapi puluhan orang dan memaksanya untuk tengkurap. Mereka menembakinya satu per satu,” kata Aboubakar yang mengungsi ke sebuah gereja Katolik di Carnot, sekitar 100 kilometer jauhnya. Kira-kira 800 orang lain juga pergi menyelamatkan diri.
Gisma Ahmad, yang menjadi janda di usia 18 tahun hanya bisa menangis mendapat kabar dari saudaranya yang mengatakan bahwa suaminya tewas dibunuh saat berusaha menyelamatkan diri. Gisma memiliki dua anak yang masih kecil, satu putri berusia 3 tahun dan satunya bayi 4 bulan yang masih menyusui.
Ratusan Muslim yang masih bertahan di Guen berlindung ke rumah imam dan juga gereja Katolik.
Orang-orang Islam di Guen, kata dua warga Muslim yang enggan menyebutkan namanya karena takut akan dibunuh, meminta pertolongan lewat telepon agar pasukan perdamaian Afrika datang ke Carnot.
Mereka juga mengatakan, milisi teror Anti-Balaka yang bersenjata lengkap masih menguasai desa pada hari Selasa.
Muslim di Republik Afrika Tengah hanya mencakup sekitar 15% dari total populasi 4,6 juta jiwa.
Namun, komandan pasukan perdamaian setempat mengatakan bahwa dia perlu izin dari atasannya di Bangui untuk pergi ke Guen.
Dilansir Aljazeera, Pada Januari 2014 penasihat khusus PBB soal pencegahan genosida mengatakan, situasi di Republik Afrika Tengah “berisiko tinggi terjadi kejahatan terhadap kemanusian dan genosida.”
Bulan ini, kelompok pemerhati hak asasi manusia Amnesty International mengatakan, pasukan penjaga perdamaian gagal mencegah pembersihan etnis atas Muslim di sebelah barat negara itu. Sehingga terjadi eksodus Muslim dalam jumlah sangat besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi negara Republik Afrika Tengah semakin memburuk sejak tumbangnya pemerintahan Presiden Francois Bozize Maret 2013.
Kelompok teroris Kristen anti-Balaka makin merajalela pada September 2013, setelah kelompok Islam, Selaka, dilucuti oleh pasukan penjaga perdamaian dari Prancis. Sejak itu pembantaian dan genosida terhadap Muslim di Republik Afrika Tengah mengganas.
Sudah lebih dari seribu orang tewas sejak Nopember 2013.*