Hidayatullah.com—Bakal pewaris kerajaan bisnis Samsung Lee Jae-yong akan diperiksa sebagai tersangka dalam skandal korupsi yang meliputi Presiden Korea Selatan Park Geun-hye.
Perusahaan raksasa Korsel itu dituding memberikan donasi ke yayasan nirlaba yang dioperasikan Choi Soon-sil, seorang teman dekat Park Geun-hye yang sekarang sedang menunggu keputusan akhir pemakzulan dirinya dari jabatan presiden.
Donasi itu diberikan diduga dengan imbal balik berupa dukungan politik atas merger bisnis kontroversial yang dilakukan Samsung.
Lee dijadwalkan akan menghadapi jaksa khusus hari Kamis (12/1/2017), kata pejabat Korsel seperti dilansir BBC.
Samsung menolak untuk memberikan komentar.
Lee, 48, saat ini menjabat sebagai wakil presiden Samsung Electronics. Namun, karena ayahnya, Lee Kun-hee, menderita serangan jantung pada 2014, dia secara de facto dianggap sebagai bos dari keseluruhan konglemerat Samsung Group.
Merger yang dipermasalahkan terkait sayap bisnis konstruksi kelompok usaha itu, Samsung C&T, dengan sebuah perusahaan afiliasinya Cheil Industries.
Jaksa menduga Samsung memberikan 2,8 juta euro kepada sebuah perusahaan milik Choi dan putrinya, dengan imbalan Samsung mendapat dukungan dari Presiden Park dalam merger itu.
Lee Jae-yong sudah memberikan bukti-bukti kepada para politisi terkait skandal itu. Namun, ini pertama kalinya dia akan diperiksa oleh tim penyidik dari kejaksaan khusus.
Dalam rapat dengar pendapat dengan parlemen awal Desember 2016, Samsung mengaku memberikan dana total 20,4 miliar won ke dua yayasan, tetapi membantah mendapatkan imbal-balik dari donasinya itu.
Lee juga membenarkan bahwa perusahaannya memberikan seekor kuda dan uang untuk membantu karir berkuda putri Choi, Chung Yoo-ra, tindakan yang sekarang disesalinya.
Awal pekan ini, dua petinggi Samsung lainnya diperiksa oleh jaksa khusus, tetapi diperlakukan sebagai saksi dan bukan tersangka.
Peran Presiden Park dalam skandal korupsi yang melibatkan teman akrabnya, Choi Soon-sil, mulai terbongkar pada Oktober 2016. Kala itu terkuak bahwa presiden memperbolehkan sahabatnya itu, yang sama sekali tidak memiliki posisi dalam pemerintahan, mengedit pidato-pidato politiknya.
Sejak itu, ribuan rakyat kerap turun ke jalan-jalan setiap akhir pekan guna menuntut presiden wanita pertama dalam sejarah Korsel itu mundur.
Park membantah dirinya telah melakukan kesalahan, tetapi dia meminta maaf tentang caranya menangani pertemanan dengan Choi -yang juga membantah terlibat tindak kriminal.
Choi dijeral dengan dakwaan pemaksaan dan upaya penipuan.*