Hidayatullah.com–Penasihat Negara (State Counsellor) dan Menteri Luar Myanmar Aung San Suu Kyi mendesak kelompok mayoritas di negara itu untuk melindungi hak minoritas.
Dalam pernyataan terbaru dikutip Reuters mengutip sumber koran Myanmar dan Xinhua Xinhua, Suu Kyi membuat pernyataan di hadapan peserta lokakarya untuk menyusun undang-undang melindungi hak minoritas.
Bengkel tersebut dilakukan di Nay Pyi Taw pada Selasa dan dihadiri Kantor Pengacara Negara, pakar hukum dan akademisi.
Batal ke Indonesia, Aung San Suu Kyi Dituduh Terlibat Pembantaian Etnis Rohingya
Aung San Suu Kyi yang sebelumnya enggan berkomentar mengenai masalah dan situasi minoritas Rohingya di Rakhine, mendesak kelompok mayoritas untuk memelihara hak minoritas dan melindungi bahasa, budaya dan adat istiadat entik minoritas.
Dia ingin hukum yang dirancang untuk melindungi semua penduduk di Myanmar dan bukan untuk menindas.
Suu Kyi jarang lagi memberikan wawancara kepada media Myanmar dan dengan hati-hati memilih siapa yang akan ditemuinya dari media internasional. Tidak ada sesi tanya-jawab dengan anggota parlemen dan belum pernah ada konferensi pers yang memadai sejak pemilihan umum 14 bulan lalu.
Bulan November tahun lalu, komunitas internasional termasuk Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di dunia menekan Myanmar akibat kekerasan militer terhadap komunitas Muslim Rohingya di Rakhine dalam forum PBB di New York.
Namun, pemimpin faksi politik yang berkuasa di Myanmar, Aung San Suu Kyi, bereaksi marah dengan merasa Myanmar diperlakukan tidak adil.
Muslim Pengacara Terkemuka dan Penasihat Partai Aung San Suu Kyi Tewas Ditembak
Suu Kyi menjawab di hari berikutnya dalam pertemuan dengan para diplomat dari PBB, AS, Inggris, Uni Eropa dan Denmark, di Ibu Kota Naypyitaw, Myanmar. Suu Kyi meluapkan kemarahannya. Menurut sumber-sumber diplomat, Suu Kyi menekankan bahwa Myanmar juga telah berkomitmen untuk memulihkan akses bantuan dan meluncurkan penyelidikan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Rakhine.
Minggu lalu, penasihat hukum Suu Kyi, U Ko Ni, yang memperjuangkan hak perwakilan warga Myanmar beragama Islam ditembak mati pada hari Ahad saat tiba dari luar negeri.
Sementara itu, beberapa LSM pro Rohingya di Malaysia akan membahas isu U Ko Ni dan perjuangannya dalam forum yang akan diadakan dalam waktu dekat.*