Hidayatullah.com–Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pertemuan dengan Wakil Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih pada Selasa, 14 Maret 2017.
Pertemuan pertama antara Donald Trump dan Pangeran Mohammed bin Salman, wakil putra mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Arab Saudi, setelah pelantikan presiden AS Januari lalu membahas peluang investasi di kerajaan serta upaya menghentikan perang yang terjadi di Suriah.
Dalam pertemuan tersebut juga diisi pembicaraan soal pandangan terkait Islam dan kebijakan imigrasi Donald Trump yang banyak mendapat kritik.
“Beliau juga mendengarkan klarifikasi dari Presiden Trump terkait pandangannya soal Islam,” kata Jared Kushner penasihat senior Donald Trump.
Baca: 12.500 Mahasiswa Saudi Lulus dari Universitas di Amerika
Pangeran Mohammed juga tidak menganggap kebijakan imigrasi Trump sebagai sesuatu yang sengaja untuk menargetkan negara Islam atau Islam secara keseluruhan.
Tak hanya itu, Pangeran Mohammed dan Donald Trump juga membicarakan soal pengalaman sukses Arab Saudi membangun sistem pengamanan perbatasan, mengingat Pangeran Mohammed juga merangkap sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi.
Yang dimaksud adalah perbatasan Arab Saudi-Iraq yang dinilai telah menekan aksi ilegal seperti penyelundupan.
Hadir dalam pertemuan itu Wakil Presiden AS Mike Pence, Penasihat Senior Trump, Jared Kushner (yang juga menantu Donald Trump), Kepala Staf Reince Priebus serta pengarah strategis Steve Bannon.
Baca: Pentingnya Kunjungan Raja Salman bagi RI dan Arab Saudi …
Pangeran Mohammed yang berpengaruh itu dinilai sedang memimpin upaya Saudi membangkitkan kembali keuangan negara dengan mendiversifikasi perekonomian dari ketergantungan terhadap minyak mentah yang harganya sedang jatuh.
Mohammed juga merupakan salah satu penggagas rencana ekonomi Saudi tanpa ketergantungan minyak pada 2030. Ayahnya, Raja Salman, saat ini tengah berada di Jepang setelah sebelumnya ke Indonesia dalam rangkaian kunjungan kenegaraan.
Kehadiran Raja Salman di Jepang dalam rangka meningkatkan kerja sama ekonomi dan menawarkan investasi di Saudi, termasuk penjualan saham perusahaan minyak Saudi, Aramco.
“Pertemuan hari ini mengembalikan isu-isu ke jalur yang tepat dan membentuk perubahan besar dalam hubungan antara kedua negara dalam sisi politik, militer, keamanan dan ekonomi,” ujar penasihat senior Kerajaan Arab Saudi kepada Reuters.
Membahasa Keamanan Kawasan
Pertemuan Wakil Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Donadl Trump di Gedung Putih juga diperkirakan membicarakan “peningkatan hubungan bilateral dan isu-isu regional yang menjadi kepentingan bersama.”
Di antaranya membahas masalaah Yaman dan penghentian perang di Suriah. Sebab sebelum ini, Raja Salman sempat menelpon Donald Trump pasca dilanti jadi presiden bulan Januari dan keduanya sepakat mendukung zona aman di Suriah dan Yaman.
Sementara itu, analis asal Saudi Ali Shihabi kepada The Washington Times menilai, Poros Riyadh berharap bisa membalikkan apa yang mereka lihat sebagai pergeseran berbahaya di era Presiden Barak Obama, di mana berhubungan sangat hangat dengan Poros Teheran. Saudi dinilai ingin pengaruh Syiah bisa ditekan.
“Pangeran adalah benar benar di sini untuk menghidupkan kembali 50-tahun hubungan strategis antara Arab Saudi dan Amerika Serikat dan mencoba untuk membawanya ke tingkat yang baru, terutama terkait anti-terorisme, tetapi juga berkaitan dengan Iran,” ujar Ali Shihabi, pengusaha Saudi dan Ketua Yayasan Saudi, sebuah think tank Washington yang baru dibentuk dan difokuskan pada geopolitik Timur Tengah.*